Graham Arnold Ungkap Ketidakadilan Play-off Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Jadi Korban

Pelatih Irak Graham Arnold menyuarakan keprihatinan atas ketidakadilan Playoff Piala Dunia 2026 zona Asia, khususnya yang merugikan Timnas Indonesia.

oleh ThomasDiterbitkan 06 Mei 2026, 12:30 WIB
Keputusan Graham Arnold sebenar tidak mengejutkan. Sebab, setelah kegagalan di Piala Asia 2023 dan hasil buruk pada dua laga awal putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, dia mendapat banyak tekanan. (AFP/Aditya Aji)

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih Tim Nasional Irak, Graham Arnold, secara terbuka menyuarakan keprihatinannya mengenai ketidakadilan dalam babak play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Pernyataan ini disampaikan Arnold dalam siniar (podcast) "The Howie Games" yang dirilis pada 1 Mei 2026, di mana ia menyoroti perubahan aturan, penunjukan tuan rumah, dan jadwal pertandingan yang dinilai merugikan tim-tim peserta, termasuk Timnas Indonesia.

Arnold, yang sebelumnya melatih Timnas Australia, mengungkapkan bahwa informasi awal mengenai babak play-off putaran keempat adalah akan diadakan di tempat netral. Namun, keputusan tersebut berubah secara mendadak menjelang pelaksanaan, dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) justru menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah.

BACA JUGA: Disiplin Jadi Kunci, Kurniawan Dwi Yulianto Siapkan Taktik Timnas Indonesia U-17 Jelang Hadapi Qatar

Sorotan utama Arnold tertuju pada kondisi tidak menguntungkan yang harus dihadapi Timnas Indonesia. Ia menyatakan empati besar untuk skuad Garuda, yang menurutnya menjadi korban dari situasi play-off yang benar-benar tidak adil.

Perubahan Aturan Lokasi Play-off yang Kontroversial

Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold. (AFP/Saeed Khan)

Graham Arnold mengungkapkan bahwa pada awal kampanye kualifikasi, tim-tim peserta diberitahu bahwa babak play-off putaran keempat akan diadakan di tempat netral. Namun entah bagaimana, Arab Saudi justru menjadi tuan rumah grup tersebut. Informasi ini kemudian berubah drastis, di mana AFC justru menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah.

Arnold merasa heran dengan penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah Grup B, padahal berdasarkan peringkat FIFA per 13 Juni 2025, Irak (peringkat 57) berada di atas Arab Saudi (peringkat 58), sementara Qatar di peringkat 53. Ia sempat mengira Irak akan menjadi tuan rumah karena peringkat mereka lebih tinggi dari Arab Saudi.

Pelatih asal Australia ini menyatakan, "Ketika saya menghadiri undian di awal kampanye bersama Australia, kami diberi tahu bahwa play-off akan diadakan di tempat netral. Namun entah bagaimana, Arab Saudi justru menjadi tuan rumah grup tersebut." Perubahan aturan ini secara mendadak muncul saat pengundian resmi dilaksanakan, yang menimbulkan tanda tanya besar.

Dampak Ketidakadilan pada Timnas Indonesia

Arnold secara khusus menyoroti kondisi yang sangat tidak menguntungkan yang harus dihadapi Timnas Indonesia dalam babak play-off tersebut. Ia menyatakan empati yang besar untuk Indonesia, dengan mengatakan, "Saya merasa sangat kasihan kepada Indonesia di grup kami karena situasi play-off itu benar-benar tidak adil. Mereka harus bermain di Arab Saudi dan Qatar."

Jadwal pertandingan yang padat dan logistik perjalanan yang melelahkan menjadi beban tambahan yang signifikan bagi Timnas Indonesia. Arnold memaparkan bahwa skuad Garuda tiba di Arab Saudi pada hari Senin, dengan beberapa pemain baru bergabung pada hari Selasa, dan langsung dihadapkan pada pertandingan krusial melawan tuan rumah Arab Saudi pada Rabu malam, 8 Oktober 2025.

Kondisi ini membuat tim pelatih tidak memiliki waktu ideal untuk mempersiapkan tim menghadapi laga pertama, dan kondisi fisik pemain juga belum optimal akibat perjalanan panjang dan minimnya waktu adaptasi. Selain itu, jeda pertandingan juga dinilai tidak seimbang, dengan Indonesia memiliki waktu istirahat yang jauh lebih singkat dibandingkan lawan-lawannya.

Kejanggalan Penentuan Tuan Rumah dan Jadwal

Penunjukan tuan rumah play-off putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia oleh AFC dinilai tidak konsisten dengan informasi awal yang diberikan kepada tim peserta. Awalnya, lokasi pertandingan dijanjikan netral, namun pada akhirnya Qatar dan Arab Saudi ditetapkan sebagai penyelenggara.

Situasi ini dianggap memberi keuntungan signifikan bagi kedua tim tuan rumah, yang bermain di kandang sendiri dengan dukungan penuh dan minim kendala logistik. Arnold juga menyoroti ketimpangan waktu istirahat; setelah bermain melawan Arab Saudi, Indonesia harus menghadapi Irak hanya tiga hari kemudian, sementara Arab Saudi memiliki waktu istirahat enam atau tujuh hari.

Meskipun hasil akhir Grup B menempatkan Arab Saudi sebagai juara grup dan lolos langsung ke Piala Dunia 2026, sementara Irak sebagai runner-up mendapatkan tiket ke putaran kelima, Arnold tetap menilai ada kejanggalan dalam sistem yang diterapkan. Kejanggalan ini, menurutnya, telah mencederai prinsip fair play, terutama bagi tim seperti Indonesia yang harus berjuang dalam kondisi yang tidak seimbang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya