Arsenal Gagal Juara Liga Champions, Schmeichel Tetap Puji Gabriel Magalhaes

Arsenal kalah dari PSG lewat adu penalti di final Liga Champions. Peter Schmeichel tetap menilai Gabriel Magalhaes sebagai pemain terbaik di lapangan.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 31 Mei 2026, 19:06 WIB
Pemain Arsenal, Gabriel Magalhaes, tak mampu menutupi kekecewaan setelah gagal mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan yang berujung pada kekalahan The Gunners dari PSG pada final Liga Champions 2025/2026 di Stadion Puskas Arena, Sabtu (30/5/2026). (AP Photo/Andreea Alexandru)

Liputan6.com, Jakarta - Arsenal harus menunda impian meraih gelar Liga Champions pertama setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti di partai final. Meski gagal menjadi juara, penampilan bek Gabriel Magalhaes tetap mendapat apresiasi tinggi dari Peter Schmeichel.

Arsenal sempat berada di jalur kemenangan setelah Kai Havertz mencetak gol pembuka pada awal pertandingan. Namun, PSG mampu menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada menit ke-64.

Laga berakhir imbang hingga babak tambahan waktu selesai dimainkan. Adu penalti kemudian menjadi penentu, dengan PSG keluar sebagai pemenang setelah menang 4-3 atas Arsenal.

Gabriel Tetap Dipuji Meski Gagal Penalti

Tendangan penalti pemain Arsenal, Gabriel Magalhaes, melambung di atas mistar gawang kiper PSG, Matvey Safonov, pada final Liga Champions di Stadion Puskas Arena, Sabtu (30/5/2026). (AP Photo/Petr Josek)

Gabriel menjadi salah satu pemain Arsenal yang gagal menjalankan tugas saat adu penalti. Tendangan bek asal Brasil itu menjadi momen yang memastikan PSG mengangkat trofi.

Meski demikian, Schmeichel tetap memberikan penilaian positif terhadap performa sang pemain sepanjang pertandingan. Legenda Manchester United itu menilai Gabriel sebagai pemain terbaik di lapangan.

"Saya sangat kasihan kepada Gabriel karena menurut saya dia luar biasa, pemain terbaik di lapangan," kata Schmeichel kepada CBS Sports. Ia juga menilai kualitas bertahan Gabriel menjadi faktor penting yang menjaga Arsenal tetap kompetitif sepanjang laga.

Schmeichel menolak anggapan bahwa Arsenal keliru menempatkan Gabriel sebagai penendang kelima. Menurutnya, pemain dengan kualitas seperti Gabriel memiliki kemampuan untuk mengambil tanggung jawab besar dalam situasi krusial.

Pertahanan Kokoh Arsenal Tak Cukup

Gelandang Arsenal, Kai Havertz, mengangkat tangan untuk merayakan gol kedua timnya dalam laga kontra Paris Saint-Germain (PSG) dalam matchday kedua Liga Champions 2024/2025 di Emirates Stadium, London, Rabu (2/10/2024) dini hari WIB. (Adrian Dennis / AFP)

Setelah unggul lebih dulu melalui Havertz, Arsenal memilih bermain lebih hati-hati untuk mempertahankan keunggulan. Strategi tersebut sempat berjalan baik sebelum PSG memperoleh penalti yang mengubah jalannya pertandingan.

Schmeichel menilai Gabriel tampil sangat dominan di lini belakang. Ia bahkan menggambarkan bek berusia 28 tahun itu sebagai sosok yang membuat Arsenal mampu bertahan dalam tekanan PSG untuk waktu yang lama.

"Dia seperti tembok besar di lini belakang. Dia menjaga tim tetap hidup dalam pertandingan untuk waktu yang sangat lama," ujar Schmeichel.

Kegagalan penalti akhirnya menutupi kontribusi besar yang telah diberikan Gabriel selama 120 menit pertandingan. Namun, penampilannya tetap menjadi salah satu aspek positif bagi Arsenal dari final tersebut.

Odegaard dan Arteta Minta Tim Bangkit

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, berjalan melewati trofi setelah timnya mengalami kekalahan pada pertandingan final Liga Champions antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal FC di Puskas Arena, Budapest, pada 30 Mei 2026. (Foto: Odd ANDERSEN / AFP.)

Kapten Arsenal, Martin Odegaard, mengakui kekalahan ini sangat menyakitkan bagi seluruh tim. Ia menilai skuad Arsenal membutuhkan waktu untuk menerima hasil tersebut sebelum kembali fokus menatap musim berikutnya.

"Kami perlu waktu untuk mengatasi kekalahan ini," kata Odegaard. Ia juga mengingatkan bahwa Arsenal tetap menjalani musim yang sangat baik meski gagal meraih dua gelar besar.

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, turut menyampaikan rasa bangganya terhadap perjuangan para pemain. Menurutnya, perjalanan hingga final menunjukkan konsistensi dan karakter kuat yang dimiliki tim sepanjang kompetisi.

"Saya sangat bangga kepada mereka. Merupakan sebuah kehormatan bisa melatih kelompok pemain ini," ujar Arteta.

Kekalahan dari PSG memang menyisakan kekecewaan besar bagi Arsenal. Namun, pujian terhadap Gabriel Magalhaes menunjukkan bahwa performa individu tetap dapat diapresiasi meski hasil akhir tidak berpihak kepada tim.

Sumber: Football365

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya