Liputan6.com, Jakarta - Lionel Messi kembali mencuri perhatian setelah namanya masuk dalam skuad Argentina untuk Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diumumkan oleh Lionel Scaloni meskipun kondisi fisik sang kapten belum sepenuhnya berada dalam performa terbaik.
Dengan usia yang telah mencapai 38 tahun dan akan segera menginjak 39 tahun, muncul pertanyaan besar mengenai alasan Messi masih bertahan di level kompetisi tertinggi. Terlebih lagi, hampir seluruh trofi bergengsi dalam dunia sepak bola sudah pernah ia menangkan.
Advertisement
Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan karena Messi sebenarnya memiliki momen sempurna untuk mengakhiri perjalanan internasionalnya setelah sukses mengantar Argentina menjadi juara dunia di Qatar pada 2022. Namun, legenda hidup sepak bola itu ternyata belum ingin menutup lembaran kariernya bersama Albiceleste.
Puncak Impian yang Tercapai di Qatar
Tidak semua pemain memiliki privilese untuk menentukan sendiri kapan kisah mereka bersama tim nasional berakhir. Dalam banyak situasi, keputusan tersebut biasanya dipengaruhi oleh penurunan kualitas permainan, cedera, atau pergantian generasi.
Messi termasuk dalam kelompok langka yang memperoleh kesempatan meninggalkan panggung internasional saat berada di puncak kejayaan. Setelah bertahun-tahun menerima tekanan karena gagal membawa Argentina menjadi juara dunia, ia akhirnya menuntaskan misi terbesar dalam kariernya di Qatar.
Gelar Piala Dunia memang selalu menjadi bagian yang hilang dari koleksi prestasinya. Selama bertahun-tahun, kegagalan menyamai pencapaian Diego Maradona kerap digunakan sebagai alasan untuk mempertanyakan posisinya dalam daftar pemain terbaik sepanjang masa.
Ketika Argentina tersingkir pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia, banyak pihak menganggap impian tersebut sudah sulit diwujudkan. Namun, empat tahun berselang, Messi berhasil membalikkan seluruh narasi yang selama ini mengikutinya.
Turnamen yang Menyempurnakan Warisan Messi
Performa Messi di Qatar dikenang sebagai salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Meski telah berusia 35 tahun saat itu, ia tetap mampu menjadi pemain paling berpengaruh di tengah persaingan dengan lawan-lawan yang jauh lebih muda.
Bek Kroasia, Josko Gvardiol, bahkan mengaku merasa bangga pernah berhadapan langsung dengan Messi pada laga semifinal. Baginya, kesempatan menghadapi pemain sekelas Messi merupakan pengalaman berharga yang tidak akan terlupakan.
Hal serupa diungkapkan gelandang Australia, Keanu Baccus. Ia menyebut kemampuan Messi di atas lapangan terasa seperti sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika dan hampir tidak nyata.
Yang membuat perjalanan Argentina semakin mengesankan adalah tekanan besar yang mereka hadapi sejak awal turnamen. Datang ke Qatar dengan modal 36 pertandingan tanpa kekalahan, mereka justru memulai kompetisi dengan kekalahan mengejutkan dari Arab Saudi.
Hasil tersebut memunculkan kembali keraguan terhadap Argentina dan kepemimpinan Messi. Namun, sang kapten mampu memberikan jawaban yang paling meyakinkan.
Perjalanan Penuh Drama Menuju Gelar Juara
Ketika Argentina berada di ujung tekanan, Messi tampil sebagai sosok yang mengubah keadaan. Ia mencetak gol krusial saat menghadapi Meksiko dalam pertandingan yang wajib dimenangkan demi menjaga peluang lolos.
Sejak momen tersebut, Messi terus menjadi pusat permainan Argentina hingga berhasil membawa timnya menembus partai final. Ia bahkan mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang mampu mencetak gol pada fase grup, babak 16 besar, perempat final, semifinal, dan final dalam satu edisi Piala Dunia.
Argentina akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan meraih gelar dunia pertama sejak 1986. Kesuksesan itu terasa begitu spesial karena untuk pertama kalinya sejak era Maradona, tim Tango kembali memiliki figur yang mendominasi jalannya turnamen dari awal hingga akhir.
Sesaat setelah final berakhir, Messi tidak mampu menyembunyikan luapan emosinya. Sambil menggenggam trofi yang selama ini diimpikannya, ia mengungkapkan betapa besar keinginannya untuk menjadi juara dunia.
"Luar biasa. Lihat betapa indah trofi ini. Saya sangat menginginkannya. Saya sudah membayangkan bahwa trofi ini akan menjadi milik kami. Saya merasa trofi itu semakin dekat," ujar Messi.
"Saya beruntung bisa meraih semuanya dalam karier saya. Gelar yang sebelumnya belum saya miliki kini sudah saya dapatkan. Saya ingin mengakhiri perjalanan dengan trofi ini. Saya tidak bisa meminta apa pun lagi. Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan semuanya."
Mengapa Messi Belum Meninggalkan Timnas Argentina?
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Messi berkembang menjadi figur pemimpin yang sangat penting di ruang ganti Argentina. Jika dahulu ia lebih dikenal sebagai sosok pendiam yang berbicara lewat aksinya di lapangan, kini pengaruhnya jauh melampaui urusan teknis permainan.
Kiper Argentina, Emiliano Martinez, pernah menggambarkan rekan-rekannya sebagai "sekumpulan singa yang siap berjuang demi Messi". Sementara itu, Julian Alvarez menilai kehadiran sang kapten membuat seluruh tim menjadi lebih percaya diri dan nyaman.
Kekompakan skuad Argentina juga mendapat pujian dari legenda sepak bola Jorge Valdano. Juara dunia 1986 tersebut melihat hubungan antar pemain seperti keluarga besar yang memiliki tujuan dan semangat yang sama.
Meski sempat muncul kekhawatiran setelah Messi mengalami cedera pada Copa America 2024, Lionel Scaloni tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyingkirkannya dari tim. Bagi pelatih Argentina tersebut, nilai yang diberikan Messi masih terlalu besar untuk diabaikan.
Selain tetap memiliki kemampuan mencetak gol dan menciptakan peluang yang tidak dimiliki banyak pemain lain, pengaruhnya terhadap mental serta atmosfer tim dinilai sangat penting.
Karena alasan itulah Scaloni bahkan sudah mulai membicarakan peluang membawa Messi ke Piala Dunia 2026 tidak lama setelah Argentina menjuarai turnamen di Qatar.
Lionel Messi telah memenangkan Piala Dunia, trofi yang selama bertahun-tahun menjadi parameter utama dalam perdebatan mengenai siapa pemain terbaik sepanjang sejarah. Oleh karena itu, kehadirannya di Piala Dunia 2026 tampaknya bukan lagi soal pembuktian, melainkan tentang menikmati perjalanan terakhir bersama generasi emas Argentina yang telah ia pimpin menuju puncak dunia.