Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 diprediksi akan memberikan tantangan yang berbeda bagi para atlet yang akan berlaga di Meksiko. Menariknya, faktor yang membuat pertandingan berpotensi berlangsung lebih lambat bukan hanya disebabkan oleh suhu yang tinggi atau kelembapan udara yang tinggi.
Meksiko akan berperan sebagai salah satu tuan rumah turnamen, bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Kanada.
Advertisement
Berbagai pertandingan akan diadakan di kota-kota seperti Guadalajara, Monterrey, dan ibu kota Meksiko, Mexico City, yang juga menjadi rumah bagi Stadion Azteca, yang dikenal sebagai salah satu stadion paling bersejarah dalam dunia sepak bola.
Cuaca panas diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting selama berlangsungnya turnamen ini. Timnas Inggris merasakan langsung kondisi tersebut ketika mereka berhasil meraih kemenangan 1-0 atas Selandia Baru dalam laga persahabatan yang berlangsung di Tampa Bay, Florida.
Namun, meskipun kelembapan di Meksiko mungkin lebih tinggi pada waktu yang sama, para ahli menyoroti adanya faktor lain yang dianggap lebih signifikan memengaruhi jalannya pertandingan.
Dari total 104 pertandingan yang akan digelar di Piala Dunia 2026, sebanyak 13 di antaranya akan berlangsung di Meksiko. Pertandingan lainnya akan diadakan di Amerika Serikat dan Kanada.
Meksiko juga akan menjadi tuan rumah untuk laga pembuka turnamen yang diikuti oleh 48 tim pertama dalam sejarah Piala Dunia pada tanggal 11 Juni, saat mereka menghadapi Afrika Selatan, sebuah pertandingan yang mengingatkan kita pada laga pembuka Piala Dunia 2010.
Ketinggian Jadi Alasan Utama
Tiannah Pedler, seorang kreator konten sepak bola, menjelaskan melalui unggahan di TikTok bahwa pertandingan di Meksiko cenderung berlangsung lebih lambat akibat faktor ketinggian. Mexico City terletak sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut, sementara Guadalajara juga memiliki elevasi yang hampir setara, mirip dengan beberapa kawasan resor ski di Eropa. Hal ini menyebabkan tubuh memerlukan usaha fisik yang lebih besar saat beraktivitas. Selain itu, waktu pemulihan bagi para pemain menjadi lebih lama, yang dapat mempengaruhi performa mereka secara keseluruhan.
Bagi tim yang bergantung pada intensitas tinggi dan tekanan agresif sepanjang pertandingan, kondisi ini bisa menjadi tantangan serius. Profesor Francois Billaut dari Universite Laval di Quebec, Kanada, yang telah melakukan penelitian tentang dampak ketinggian terhadap performa atlet selama dua dekade, menyatakan kepada The Athletic bahwa di daerah dengan elevasi tinggi, tekanan udara akan lebih rendah.
"Berkurangnya kadar oksigen menjadi persoalan utama untuk olahraga yang mengandalkan daya tahan," ungkap Billaut. Ia menambahkan bahwa otot atlet mendapatkan pasokan oksigen yang lebih sedikit, sehingga kemampuan fisik mereka cenderung menurun lebih cepat.
Bola Juga Terpengaruh
Dampak dari ketinggian terhadap pertandingan tidak hanya berkaitan dengan stamina para pemain. Pada tahun 2023, Lionel Messi dan rekan-rekannya dari Argentina terlihat menggunakan oksigen melalui selang khusus saat bersiap menghadapi Bolivia di Stadion Hernando Siles, La Paz, yang terletak pada ketinggian 3.637 meter di atas permukaan laut.
Neymar pernah menyebut kondisi ekstrem di stadion tersebut sebagai "tidak manusiawi." Bahkan, FIFA pernah melarang Stadion Hernando Siles untuk menggelar pertandingan kualifikasi Piala Dunia karena lingkungan yang dianggap terlalu berat bagi para pemain.
Meskipun para atlet profesional biasanya sudah terbiasa beradaptasi dengan ketinggian, udara yang lebih tipis juga memengaruhi pergerakan bola. Dalam kondisi ini, bola dapat meluncur lebih cepat dan menempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan kondisi normal.
Hal ini menyebabkan lintasan umpan panjang, tembakan jarak jauh, serta situasi bola mati menjadi tidak sesuai dengan yang diperkirakan oleh pemain. Oleh karena itu, para penjaga gawang harus memberikan perhatian ekstra untuk menyesuaikan perhitungan mereka terhadap arah dan kecepatan bola yang datang.
Iklim Ekstrem di Piala Dunia 2026
Meksiko menghadapi tantangan tambahan terkait ketinggian wilayahnya, sementara kondisi cuaca di ketiga negara tuan rumah diprediksi akan menjadi salah satu isu utama selama turnamen berlangsung. Laporan khusus yang dirilis oleh United Nations Climate Change mengulas dampak dari cuaca panas terhadap jalannya pertandingan. Oleh karena itu, jeda pendinginan dan jeda minum diperkirakan akan menjadi hal yang umum terlihat selama Piala Dunia 2026.
Data terbaru yang dikeluarkan oleh World Weather Attribution menunjukkan bahwa dari total 104 pertandingan, sebanyak 26 di antaranya akan berlangsung dalam kondisi yang telah dinyatakan berisiko oleh para ahli.
Para pakar yang memberikan masukan kepada FIFPRO, serikat pemain sepak bola internasional, menyatakan bahwa suhu yang berbahaya pada pertandingan-pertandingan tersebut bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan para pemain. Bahkan kota-kota seperti Toronto dan Vancouver, yang dikenal dengan suhu yang lebih rendah, tetap berisiko mengalami gelombang panas selama berlangsungnya turnamen ini.
Studi lain menunjukkan bahwa hampir setengah dari pertandingan Piala Dunia 2026 memiliki kemungkinan setidaknya 50 persen untuk berlangsung dalam kondisi panas yang dapat mempengaruhi performa pemain secara signifikan.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan terhadap 57 pertandingan Piala Dunia Antarklub serta 1.070 observasi pemain menemukan bahwa risiko gangguan kesehatan akibat panas ekstrem cukup tinggi, terjadi dalam 31 pertandingan. Dengan berbagai data dan temuan ini, jelas bahwa cuaca akan menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan selama turnamen mendatang.
Sumber: Aning Jati (Bola.com)