Liputan6.com, Jakarta - Tim nasional Brasil harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih awal dari yang diperkirakan. Kekalahan 1-2 dari Norwegia pada babak 16 besar menjadi salah satu kejutan terbesar di fase gugur turnamen tersebut. Meski demikian, pelatih Carlo Ancelotti langsung menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengundurkan diri dari posisi kepelatihannya.
Pertandingan yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (5/7/2026) waktu setempat atau Senin (6/7/2026) WIB itu, menandai kali pertama Selecao tersingkir di babak 16 besar sejak Piala Dunia 1990.
Advertisement
Ancelotti, yang masih terikat kontrak dengan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) hingga 31 Juli 2030, mengakui adanya rasa sedih atas kekalahan tersebut. Namun, ia melihatnya sebagai “pengalaman yang indah” karena kebersamaan dan kerja keras yang telah ditunjukkan para pemain.
Drama di New York New Jersey Stadium
Norwegia berhasil menumbangkan raksasa sepak bola Brasil dengan skor 2-1. Bintang kemenangan Norwegia tak lain adalah Erling Haaland, yang mencetak dua gol krusial pada menit ke-79 dan ke-90.
Brasil sempat memiliki peluang emas untuk memimpin setelah Matheus Cunha dijatuhkan di kotak penalti pada menit ke-10. Sayangnya, eksekusi penalti oleh Bruno Guimaraes berhasil digagalkan oleh kiper Norwegia, Orjan Nyland. Gol hiburan bagi Brasil baru tercipta pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+10, melalui tendangan penalti Neymar.
Penampilan Selecao dan keputusan taktik Carlo Ancelotti mendapat kritik keras dari media Brasil. Salah satunya, Globoesporte, menyoroti dominasi Haaland dalam pertandingan tersebut serta ketidaktepatan strategi yang diterapkan Brasil.
Komitmen Ancelotti dan Pandangan ke Depan
Meskipun timnya gagal melangkah lebih jauh, Carlo Ancelotti menegaskan bahwa kekalahan ini adalah “awal dari petualangan baru, musim yang baru”. Ia mengajak tim untuk terus bekerja, berbenah, dan menemukan ide-ide baru guna bangkit kembali.
"Kekalahan adalah awal dari petualangan baru. Sekarang kita perlu terus bekerja keras dan terus meningkatkan diri," kata Ancelotti.
"Inilah sepak bola. Inilah olahraga. Kita hanya perlu menghadapinya. Kita akan menggunakan ini sebagai bahan bakar untuk melangkah maju."
Ancelotti merasa Brasil seharusnya bisa meraih kemenangan dalam pertandingan tersebut dan tidak pantas kalah dari Norwegia. Ia optimistis bahwa Brasil akan kembali menjadi kekuatan utama sepak bola dunia di turnamen berikutnya.
Pelatih asal Italia itu juga membela keputusannya menunjuk Bruno Guimaraes sebagai eksekutor penalti. Menurutnya, keputusan tersebut didasarkan pada analisis statistik yang telah dilakukan oleh tim pelatih.
Implikasi Kekalahan dan Sejarah Baru
Kekalahan pahit ini memicu spekulasi mengenai masa depan beberapa pemain kunci. Neymar, misalnya, mengisyaratkan bahwa pertandingan ini kemungkinan menjadi yang terakhir baginya bersama tim nasional Brasil, dengan menyatakan, “Saya memulai di sini dan saya mengakhirinya di sini.”
Tekanan terhadap Ancelotti dan timnya diperkirakan akan meningkat tajam setelah hasil mengecewakan ini. Para penggemar dan media Brasil memiliki ekspektasi tinggi, terutama mengingat reputasi Ancelotti sebagai pelatih top Eropa. Kegagalan di babak 16 besar akan menjadi bahan evaluasi serius bagi CBF, meskipun Ancelotti telah menegaskan komitmennya untuk tetap melatih.
Hasil ini juga memperpanjang penantian Brasil akan gelar Piala Dunia, mengakhiri periode terpanjang tanpa trofi sejak pertama kali menjadi juara pada tahun 2002.
Di sisi lain, kekalahan Brasil menjadi momen bersejarah bagi Norwegia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, timnas Norwegia berhasil melaju ke babak perempat final Piala Dunia.