Cari Penerus Suryo Agung, Regenerasi Atletik Diperluas Hingga Usia 8 Tahun

Athletics Challenge Seri 1 2026 yang digelar di Kudus kini juga mengadakan KU 8 demi mencari bibit baru sejak dini.

oleh ThomasDiterbitkan 19 Juli 2026, 10:30 WIB
Keseruan Athletics Challenge Seri 1 2026 di Kudus

Liputan6.com, Jakarta - Upaya membangun regenerasi atlet atletik sejak usia dini terus diperkuat. Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife dan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kudus memperluas jalur pembinaan dengan menghadirkan kelompok usia (KU) 8 pada penyelenggaraan MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026.

Kejuaraan yang berlangsung pada 15-18 Juli 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, tersebut diikuti sebanyak 2.270 pelajar dari 196 MI, SD, MTs, SMP, SMA, MA, hingga SMK di Kudus dan sekitarnya.

Selain penambahan kategori usia, penyelenggara juga memperluas cakupan pembinaan hingga KU 18 sehingga proses pencarian bibit atlet berlangsung lebih berjenjang, mulai dari anak usia sekolah dasar hingga remaja.

Deputy Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation, Welly Arisanto, mengatakan penambahan KU 8 merupakan bagian dari strategi mempercepat pembinaan atlet sejak fase perkembangan motorik anak.

"Dengan menghadirkan kelompok usia 8 tahun pada seri 1 2026 ini, kami ingin memotong garis awal pembinaan agar lebih dini lagi. Di usia emas anak-anak, koordinasi motorik mereka sedang berkembang pesat. Lewat MilkLife Athletics Challenge, kami memfasilitasi mereka agar mengenal fondasi atletik lewat cara yang kompetitif namun tetap menyenangkan," ujarnya.

Nomor Perlombaan Disesuaikan dengan Tumbuh Kembang Anak

Peserta Athletics Challenge Seri 1 2026 beraksi di Kudus

Tak hanya memperluas rentang usia peserta, Athletics Challenge Seri 1 2026 juga menghadirkan penyegaran nomor perlombaan. Tahun ini terdapat lima kelompok usia, yakni KU 8, KU 10, KU 12, KU 15, dan KU 18 dengan total 23 nomor pertandingan.

Beberapa nomor baru seperti lari 800 meter dan lompat tinggi dimasukkan sebagai sarana mengukur potensi dasar atlet muda. Sebaliknya, nomor yang dinilai membutuhkan ketahanan fisik ekstrem maupun berisiko tinggi terhadap cedera pada anak, seperti lari 3.000 meter dan lompat jangkit, tidak lagi dipertandingkan.

"Tahun ini kami juga menyegarkan pilihan nomor perlombaan dengan menyisipkan variasi lari 800 meter dan lompat tinggi yang lebih efektif untuk mengukur potensi dasar mereka. Di sisi lain, kami memilih lebih selektif terhadap nomor yang membutuhkan ketahanan fisik ekstrem maupun berisiko cedera tinggi. Kami ingin peserta fokus pada nomor atletik yang adaptif dan sesuai dengan porsi tumbuh kembang mereka," kata Welly.

Jadi Lumbung Bibit Atlet Jawa Tengah

Ketua PASI Kudus, Firdaus, menilai penyelenggaraan Athletics Challenge secara rutin sejak 2024 telah membawa dampak positif terhadap perkembangan atletik usia dini di Jawa Tengah.

Menurutnya, kompetisi yang menggabungkan unsur pertandingan dan permainan edukatif itu sukses menarik minat ribuan pelajar sekaligus menjadi wadah lahirnya calon atlet potensial.

"Perkembangan kualitas anak-anak dari seri ke seri sangat luar biasa. Kompetisi yang reguler seperti ini berhasil mengubah pandangan bahwa atletik itu menakutkan, menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan bagi anak sekolah. Kami optimistis Kudus sedang berproses melahirkan generasi atletik baru yang siap bersaing di tingkat provinsi hingga nasional," ujarnya.

Firdaus menambahkan, para atlet yang terjaring nantinya akan mendapatkan pembinaan lanjutan secara berkelanjutan agar siap menghadapi berbagai kejuaraan resmi.

MTsN 1 Kudus Pertahankan Gelar Juara Umum

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan MTsN 1 Kudus yang sukses mempertahankan gelar Juara Umum kategori KU 15.

Sekolah tersebut mengoleksi tujuh medali emas, tiga perak, dan dua perunggu.

Guru MTsN 1 Kudus, Dimas Maulana, mengatakan keberhasilan itu merupakan buah dari pembinaan yang dilakukan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler atletik.

"Athletics Challenge ini adalah ajang yang sangat luar biasa. Anak-anak ternyata memiliki bakat di bidang atletik dan kami berusaha memberikan fasilitas agar kemampuan mereka terus berkembang. Semoga prestasi ini bisa terus dipertahankan dan ikut melahirkan bibit atlet dari Kudus," katanya.

Sementara itu, salah satu atlet yang mencuri perhatian pada kategori KU 18 adalah Adyatama Fawwaz Oktoraza dari MAN 2 Kudus.

Ia berhasil menjadi juara nomor lari 400 meter putra sekaligus membawa tim sekolahnya meraih kemenangan pada nomor estafet 4x400 meter mixed.

Adyatama mengaku Athletics Challenge menjadi ajang penting untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding.

"Kejuaraan ini sangat positif karena semakin banyak siswa yang tertarik mengikuti atletik. Kemenangan ini sangat berarti bagi saya. Ke depan saya ingin fokus di nomor 400 meter dan semoga ini menjadi salah satu jalan untuk lolos ke Pelatnas serta menjadi bagian dari tim nasional atletik," ungkapnya.

Melalui perluasan kelompok usia dari KU 8 hingga KU 18, Athletics Challenge 2026 diharapkan mampu memperkuat mata rantai pembinaan atletik nasional sejak usia dini sekaligus membuka jalan lahirnya lebih banyak atlet berprestasi dari Kudus dan Jawa Tengah.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya