3 Skenario Gianni Infantino Lengser dari Presiden FIFA

Setelah kontroversi FFE, kepercayaan ke Gianni Infantino runtuh. Tiga jalur di Statuta FIFA bisa mengakhiri masa jabatannya.

oleh Yus Mei SawitriDiterbitkan 03 Agustus 2026, 06:30 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kepercayaan terhadap Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA goyah menyusul polemik rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Meski FIFA membatalkan proposal itu pada Sabtu (1/8/2026), sorotan kini beralih pada tiga mekanisme resmi yang dapat mengakhiri masa jabatannya sesuai Statuta FIFA.

Proposal tersebut semula mengundang investor eksternal untuk memiliki saham minoritas di anak perusahaan baru FIFA, FIFA Forward Enterprise (FFE).

Sebanyak 211 asosiasi anggota diberi tenggat hingga 19 September untuk menyetujui skema itu dengan imbalan hingga US$ 40 miliar bagi masing-masing federasi, dilansir dari Sport Bible.

Kontroversi itu juga memicu gejolak di internal FIFA. Penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri setelah menyebut rencana tersebut sebagai kesepakatan yang buruk bagi sepak bola. Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour, dikabarkan mengancam mundur karena merasa dibohongi oleh Infantino.

UEFA Ancam Boikot, FA Desak Tinjauan Kepemimpinan

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Penolakan terhadap rencana FFE mencuat dari level konfederasi. UEFA menjadi pihak pertama yang mengancam akan memboikot Piala Dunia bila skema tersebut diteruskan. Sikap itu kemudian diikuti oleh Concacaf dan AFC.

Setelah FIFA membatalkan proposal, nada kritik tidak reda. UEFA menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino dan menyebut skema tersebut sebagai kesepakatan murahan yang digodok secara tertutup.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) turut menekan dengan menyerukan peninjauan menyeluruh terhadap kepemimpinan FIFA di tengah merosotnya kepercayaan terhadap pucuk organisasi.

Dari sisi pemberitaan, koresponden olahraga Sky News, Rob Harris, melaporkan bahwa upaya untuk menggulingkan Infantino kini mulai menguat.

Mantan Ketua FA, David Bernstein, ikut angkat bicara mengenai posisi Infantino di tengah tekanan ini.

"Dalam organisasi yang normal, jika dia harus mundur karena persoalan sebesar ini, kemungkinan besar dia akan disingkirkan. Namun FIFA bukan organisasi yang normal. Jika dia mendapat dukungan dari cukup banyak asosiasi nasional, dia akan tetap bertahan," kata David Bernstein.

Tiga Jalur Lengser Sesuai Statuta FIFA

Statuta FIFA membuka tiga jalur yang dapat berujung pada berakhirnya masa jabatan presiden. Pertama, melalui mosi tidak percaya. Sedikitnya 20 persen anggota (43 asosiasi) dapat meminta Kongres Luar Biasa FIFA. Dalam forum itu, mereka bisa memasukkan agenda pemungutan suara untuk memberhentikan presiden.

Kedua, investigasi oleh Komite Etik FIFA. Badan ini dapat menyelidiki dugaan pelanggaran Kode Etik FIFA berdasarkan laporan resmi dari anggota atau pejabat FIFA. Jika terbukti melanggar, presiden dapat dijatuhi sanksi, termasuk larangan beraktivitas di sepak bola. Namun opsi ini dinilai kecil kemungkinannya karena belum ada dugaan pelanggaran etik yang jelas.

Ketiga, melalui pemilihan. Infantino akan kembali mencalonkan diri pada pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Jika mayoritas anggota Kongres FIFA memilih kandidat lain, masa jabatan Infantino berakhir lewat proses tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya