Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 saat ini belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan antusiasme yang signifikan di awal persiapan. Namun, kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Pada edisi sebelumnya, yaitu Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022, juga mengalami fase yang serupa sebelum akhirnya acara tersebut berlangsung dengan meriah.
Menjelang pelaksanaan turnamen, narasi yang berkembang cenderung konsisten: infrastruktur dianggap belum memadai, harga tiket dinilai terlalu tinggi, dan ada keraguan mengenai kesiapan dari tuan rumah. Ketidakpastian ini sering kali menjadi sorotan utama sebelum turnamen dimulai.
Advertisement
Namun, ketika kompetisi resmi dimulai, fokus publik segera beralih kepada pertandingan yang berlangsung, dan kekhawatiran tersebut umumnya mereda seiring dengan berlangsungnya acara. Hal yang sama kini terlihat menjelang Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Data awal menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap turnamen ini belum mengalami lonjakan yang signifikan. Meskipun demikian, sejarah menunjukkan bahwa antusiasme dapat meningkat pesat saat kompetisi sudah dimulai.
Pengaju Visa Wisata AS
Hingga saat ini, terdapat sekitar 12.000 pemohon visa turis untuk Piala Dunia 2026 yang telah terdaftar dalam sistem percepatan janji temu khusus FIFA, yang dikenal dengan nama FIFA PASS. Angka tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan target penjualan tiket yang mencapai sekitar 6,5 juta untuk 104 pertandingan yang akan berlangsung.
Ariel Ruiz Soto, seorang analis dari Migration Policy Institute, menyatakan bahwa angka pemohon visa tersebut berada di sisi bawah. Selain itu, data terbaru juga menunjukkan bahwa belum ada peningkatan signifikan.
Departemen Luar Negeri AS mencatat bahwa jumlah permohonan EST, yaitu izin perjalanan elektronik, mencapai 5,1 juta, yang masih sejalan dengan tahun-tahun normal, di mana biasanya mencapai sekitar 15 juta. Dengan kata lain, dampak dari Piala Dunia 2026 belum terlihat dalam jumlah permohonan perjalanan yang masuk.
Industri Perhotelan
Perspektif yang sama juga muncul dari industri perhotelan. Dalam sebuah konferensi, CEO Hilton, Christopher Nassetta, menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 "belum sekuat yang diharapkan", meskipun ia menekankan bahwa saat ini masih terlalu awal untuk menarik kesimpulan definitif.
Ruiz Soto memberikan penilaian yang lebih tegas dengan mengatakan, "Belum ada bukti signifikan bahwa jumlah pelancong internasional akan meningkat karena Piala Dunia musim panas ini." Hal ini menunjukkan adanya keraguan di kalangan pemimpin industri terkait dampak positif dari acara besar tersebut.
Beberapa faktor memang menjadi penghalang bagi peningkatan kunjungan internasional. Pada tahun lalu, kunjungan ke AS mengalami penurunan sekitar 5,5 persen. Berbagai aspek seperti kebijakan visa yang ketat, pengetatan imigrasi, serta persepsi negatif di pasar utama turut berkontribusi.
Selain itu, tingginya harga tiket pertandingan yang dinyatakan sebagai yang termahal dalam sejarah turnamen juga menjadi salah satu penghambat. Tidak hanya itu, kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang membatasi akses dari empat negara peserta juga menambah lapisan kompleksitas dalam situasi ini.
Suasana Jelang Hari H
Sejarah mencatat bahwa menjelang hari pertandingan, Piala Dunia sering kali mengalami peningkatan ketegangan. Proses pengajuan ESTA dapat berlangsung dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan jam atau bahkan menit, dan para penggemar dari negara-negara seperti Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, dan Spanyol sering kali tidak merencanakan perjalanan mereka jauh-jauh hari sebelumnya.
Dengan adanya format baru yang melibatkan 48 tim, Piala Dunia 2026 diprediksi akan tetap meraih kesuksesan. Pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah turnamen ini akan berhasil, tetapi lebih kepada apakah awal yang lambat ini akan menjadi masalah besar atau hanya sekadar catatan kecil saat kompetisi mulai berlangsung dan suasana sepak bola mulai menguasai.
Sumber: Aning Jati (Bola.com)