Hak Siar Piala Dunia 2026 di India dan China Belum Laku, FIFA Panik

FIFA menghadapi kebingungan karena India dan China belum mencapai kesepakatan mengenai hak siar untuk Piala Dunia 2026.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 14 Mei 2026, 08:00 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Liputan6.com, Jakarta - Perluasan Piala Dunia 2026 yang mengubah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi negara-negara besar seperti India dan China untuk berkompetisi di putaran final.

Dengan populasi yang sangat besar, FIFA percaya bahwa kedua negara ini akan menjadi pendorong baru bagi pertumbuhan turnamen, bukan hanya negara-negara kecil seperti Tanjung Verde atau Curacao, yang jumlah penduduknya bahkan tidak sebanding dengan satu distrik di Mumbai atau Shanghai.

Namun, menjelang pelaksanaan Piala Dunia 2026 yang hanya tinggal beberapa minggu, FIFA menghadapi tantangan baru: belum ada kesepakatan mengenai hak siar dengan India dan China untuk menyiarkan semua 104 pertandingan.

Beberapa bulan yang lalu, FIFA dilaporkan menawarkan paket hak siar Piala Dunia 2026 dan edisi selanjutnya kepada India dengan nilai sekitar 100 juta dolar AS, yang setara dengan Rp1,75 triliun, sementara untuk China, tawaran berkisar antara 250 juta hingga 300 juta dolar AS.

Meskipun FIFA telah berusaha untuk menurunkan nilai tawaran tersebut, kesepakatan dengan kedua negara tersebut masih belum tercapai hingga saat ini. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi pemirsa dan dukungan finansial yang diharapkan dari pasar besar ini.

Waktu Pertandingan

Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Di India, harga yang ditawarkan untuk hak siar kabarnya telah mengalami penurunan menjadi 35 juta dolar AS. Penawaran tertinggi saat ini berasal dari JioStar dengan angka 20 juta dolar AS. Hal ini cukup mengejutkan jika mengingat nilai kontrak pada edisi sebelumnya, di mana Sony pernah mengeluarkan 90 juta dolar AS untuk hak siar Piala Dunia 2014 dan 2018. Sementara itu, Viacom18 juga mengeluarkan biaya sebesar 62 juta dolar AS untuk menyiarkan Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar.

Salah satu faktor yang dianggap memengaruhi adalah jam tayang yang kurang menguntungkan bagi pasar India jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2022, di mana hanya 14 pertandingan yang dimulai sebelum tengah malam waktu setempat.

Sebagai perbandingan, pada edisi 2018, hampir semua pertandingan dimulai sebelum tengah malam, sedangkan di 2022 hanya 20 pertandingan yang berlangsung melewati tengah malam. Namun, Shaji Prabhakaran, yang merupakan anggota Komite Eksekutif Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan mantan Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola India (AIFF), menegaskan bahwa jadwal pertandingan bukanlah masalah utama.

"Jam tayang bisa dijadikan alasan," ungkap Prabhakaran kepada Guardian. "Pertandingan Piala Dunia dimainkan pada jam yang mirip dengan Liga Champions dan masyarakat India tetap menontonnya. Ini juga bukan Piala Dunia pertama yang berlangsung pada jam seperti ini dan India tetap mengikuti turnamennya," tambahnya.

Situasi Penyiaran di India

Ilustrasi, logo Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Prabhakaran berpendapat bahwa kebuntuan yang terjadi lebih disebabkan oleh situasi industri penyiaran olahraga di India yang kini kurang kompetitif, minimnya dana, serta hilangnya keberanian untuk mengambil risiko. Pada tahun 2022, Viacom, yang merupakan bagian dari Reliance, masih tergolong sebagai pemain baru dan memerlukan konten berkualitas tinggi untuk menarik perhatian pelanggan, sehingga bersedia menanggung kerugian demi mendapatkan hak siar Piala Dunia.

Saat ini, pilihan yang tersisa hanya JioStar, hasil kolaborasi antara Reliance dan Disney, serta Sony. "Tidak ada persaingan nyata di pasar penyiaran olahraga India sehingga membuat posisi FIFA lebih sulit," ungkap Prabhakaran.

"Dan dari pasar yang ada, kriket tetap menjadi olahraga utama dan pusat perhatian," yang menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, kriket tetap mendominasi perhatian publik di India.

Lebih Tertarik Kriket

Gambar tentang kriket. Foto oleh Samarth Shirke di Unsplash.

Pengaruh dominasi kriket di India sangat terasa pada sikap hati-hati stasiun televisi. Menurut laporan media lokal, jumlah rata-rata penonton Liga Premier India pada musim ini mengalami penurunan sebesar 26 persen, meskipun liga tersebut dikenal sebagai turnamen kriket yang paling populer dan menguntungkan di negara tersebut.

Situasi ini membuat para penyiar ragu untuk berinvestasi besar dalam turnamen sepak bola yang tidak melibatkan tim India, terutama karena banyak pertandingan disiarkan pada jam larut malam atau dini hari. Meskipun laga-laga dari tim-tim besar seperti Brasil, Argentina, Portugal, Jerman, dan Inggris diprediksi masih akan menarik perhatian, banyak pertandingan fase grup dianggap kurang menjanjikan.

Selain itu, daya tarik rivalitas antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang sebelumnya sangat kuat di India juga mulai berkurang. Faktor lain yang mempengaruhi adalah nilai tukar mata uang; ketika Sony membeli hak siar pada tahun 2013, satu dolar AS setara dengan 54 rupee India, namun pada tahun 2022, nilai tersebut meningkat menjadi 78 rupee, dan kini mencapai 95 rupee per dolar AS.

Masalah di China

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Bola.com/Gemini)

Menurut FIFA, pasar di China memiliki tingkat kepentingan yang sangat tinggi. Sebuah laporan menyebutkan bahwa China menyumbang 17,7 persen dari total jangkauan televisi linear global untuk Piala Dunia 2022. Angka tersebut bahkan meningkat tajam menjadi 49,8 persen ketika dilihat dari platform digital dan media sosial.

Dalam konteks ini, Beijing Daily menyampaikan bahwa FIFA telah meminta nilai hak siar berkisar antara 250 juta hingga 300 juta dolar AS. Namun, CCTV, yang merupakan pemegang hak siar tradisional untuk Piala Dunia di China, hanya memiliki anggaran sekitar 60 juta sampai 80 juta dolar AS.

Angka anggaran tersebut masih jauh di bawah harga yang kabarnya telah diturunkan menjadi antara 120 juta hingga 150 juta dolar AS. Selain itu, perbedaan waktu juga menjadi tantangan yang signifikan. Beijing memiliki selisih waktu 12 jam lebih cepat dibandingkan New York, sehingga banyak pertandingan diadakan pada jam yang kurang menguntungkan bagi pengiklan di China.

Kegagalan tim nasional China untuk lolos ke Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir juga berdampak pada minat publik yang cenderung menurun. Di platform media sosial China, banyak pengguna yang menunjukkan dukungan terhadap keputusan CCTV untuk tidak meningkatkan tawaran harga. Salah satu alasan yang diungkapkan adalah bahwa penggemar olahraga muda di China kini lebih sering mencari alternatif untuk menonton pertandingan melalui internet.

Masalah Penting untuk FIFA

Gianni Infantino, Presiden FIFA, memberikan pidato di KTT Semafor World Economy 2026 yang berlangsung pada 15 April 2026 di Washington, DC. Acara ini mengumpulkan pemimpin bisnis dan CEO teknologi untuk berdiskusi.

Walaupun demikian, terdapat keyakinan bahwa kesepakatan akan tetap terwujud. FIFA dikabarkan telah mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Beijing untuk mempercepat proses negosiasi yang sedang berlangsung. Prabhakaran memperkirakan bahwa proses yang serupa di India mungkin akan memakan waktu sekitar dua minggu lagi.

Apapun hasil akhirnya, situasi ini menjadi masalah yang serius bagi Presiden FIFA, Gianni Infantino. Jika India dan China mampu menunda kesepakatan hingga mendekati waktu turnamen dan masih bisa mendapatkan potongan harga yang signifikan, kemungkinan besar negara-negara lain akan mengikuti pola yang sama di masa mendatang.

"Harus selalu ada keseimbangan," ujar Prabhakaran. "Nilai sebuah produk harus tetap dijaga, kalau tidak akan ada konsekuensinya," tambahnya.

Di sisi lain, membiarkan dua negara yang mewakili lebih dari sepertiga populasi dunia tidak memiliki siaran resmi Piala Dunia jelas merupakan tantangan besar bagi FIFA. Dalam situasi ini, FIFA harus mempertimbangkan berbagai aspek agar tetap menjaga integritas dan nilai dari acara tersebut. Keputusan yang diambil akan berpengaruh pada masa depan hubungan FIFA dengan negara-negara besar lainnya.

 

Sumber: Aning Jati (Bola.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya