AC Milan Menyesal? 10 Pemain yang Seharusnya Tidak Dilepas Rossoneri

Ada sejumlah pemain yang tidak seharusnya dilepas oleh AC Milan. Keputusan melepas mereka berpotensi menjadi penyesalan bagi Rossoneri di kemudian hari.

oleh Aga Deta AndityaDiterbitkan 15 Mei 2026, 20:17 WIB
Logo dan ilustrasi AC Milan. (AFP/Paco Serinelli)

Liputan6.com, Jakarta - AC Milan dikenal sebagai salah satu tim paling sukses dalam sejarah Liga Champions. Rossoneri telah mengoleksi tujuh trofi sejak era European Cup.

Kesuksesan tersebut tidak lepas dari investasi besar di masa kepemimpinan Silvio Berlusconi. Banyak pemain kelas dunia datang dan membentuk tim legendaris.

Namun, di balik keberhasilan itu, Milan juga membuat sejumlah keputusan transfer yang dipertanyakan. Beberapa pemain justru bersinar setelah meninggalkan San Siro.

Kesalahan dalam menjual pemain menjadi catatan tersendiri dalam sejarah klub. Terutama sejak memasuki era modern setelah tahun 2000.

Berikut ini adalah sepuluh penjualan pemain yang dianggap sebagai kesalahan besar AC Milan. Dampaknya terasa baik secara prestasi maupun finansial.

1. Roberto Ayala ke Valencia (2000)

Legenda Timnas Argentina, Roberto Ayala. (AFP/Alejandro Pagni)

Roberto Ayala dikenal sebagai salah satu bek terbaik dunia pada awal tahun 2000-an. Ia mencapai puncak performa saat membela Valencia.

Bersama Valencia, Ayala meraih berbagai kesuksesan besar. Ia membantu tim memenangkan dua gelar Liga Spanyol, satu Piala UEFA, dan mencapai final Liga Champions.

Namun sebelum itu, kariernya di AC Milan tidak berjalan sesuai harapan. Ia kesulitan mendapatkan tempat selama dua musim di San Siro.

Keputusan Milan melepasnya kemudian dianggap sebagai kesalahan. Meski begitu, persaingan ketat dengan pemain seperti Paolo Maldini dan Alessandro Nesta menjadi salah satu alasannya.

2. Pierre-Emerick Aubameyang ke Saint Etienne (2011)

1. Pierre-Emerick Aubameyang (Dortmund) - Dailystar melaporkan jika Arsenal coba mendatangkan striker asal Gabon ini seharga 53 juta poundsterling. The Gunners juga akan menawarkan Olivier Giroud sebagai barter yang ditawarkan. (AFP/Patrik Stollarz)

Pierre-Emerick Aubameyang memulai karier profesionalnya di Eropa bersama AC Milan. Namun ia tidak pernah tampil dalam pertandingan resmi untuk tim utama.

Selama periode 2008 hingga 2011, ia lebih sering dipinjamkan ke berbagai klub. Ia sempat bermain untuk Dijon, Lille, Monaco, dan Saint-Etienne.

Kepindahannya ke Saint-Etienne kemudian dipermanenkan setelah masa pinjaman. Ia meninggalkan Milan tanpa satu pun penampilan kompetitif di level senior.

Keputusan itu kemudian dianggap keliru melihat perkembangan kariernya. Aubameyang menjelma menjadi penyerang tajam bersama Borussia Dortmund dan Arsenal sebelum melanjutkan karier ke Barcelona dan Chelsea.    

3. Andrea Pirlo ke Juventus (2011)

Andrea Pirlo - Mantan pelatih Juventus ini berperan sentral mengantar AC Milan merengkuh trofi Liga Champions pada 2003 dan 2007. Pirlo merupakan pemain tengah jenius dengan kemampuan mendribel bola serta umpan-umpan berkelas yang memanjakan penyerang AC Milan kala itu. (AFP/Paco Serinelli)

Andrea Pirlo dianggap telah melewati masa terbaiknya ketika AC Milan tidak memperpanjang kontraknya pada 2011. Keputusan itu diambil saat usianya sudah menginjak 32 tahun.

Pirlo kemudian bergabung dengan Juventus secara gratis. Kepindahan tersebut justru menjadi titik balik besar dalam kariernya.

Ia langsung tampil luar biasa dan membawa Juventus meraih gelar Serie A pertama dalam lima tahun. Kesuksesan itu menjadi awal dominasi panjang Juventus di kompetisi domestik.

Sementara Pirlo tetap bersinar di level tertinggi Eropa selama beberapa musim, Milan justru mengalami penurunan. Mereka bahkan harus menunggu lebih dari satu dekade untuk kembali meraih gelar Serie A.

4. Zlatan Ibrahimovic ke PSG (2012)

Selebrasi striker AC Milan Zlatan Ibrahimovic sesuai mencetak gol penutup kemenangan 4-0 dari Arsenal pada leg pertama 16 besar Liga Champions di San Siro, Milan, 15 Februari 2012. AFP PHOTO/GIUSEPPE CACACE

Zlatan Ibrahimovic berperan penting saat AC Milan meraih gelar Serie A musim 2010/11. Saat itu, ia bergabung sebagai pemain pinjaman dari Barcelona.

Performa impresifnya membuat Milan mempermanenkan statusnya. Namun masalah finansial memaksa klub melepasnya ke Paris Saint-Germain hanya setahun kemudian.

Di PSG, Ibrahimovic berkembang menjadi sosok legendaris. Ia membantu klub Prancis itu menjelma sebagai kekuatan baru di sepak bola Eropa.

Setelah itu, ia sempat bermain untuk Manchester United dan LA Galaxy sebelum kembali ke Milan. Kepulangannya membawa dampak besar, meski ada penyesalan atas kepergiannya sebelumnya.

5. Thiago Silva ke PSG (2012)

Selebrasi bek AC Milan, Thiago Silva setelah mencetak gol ke gawang Barcelona pada laga penyisihan grup Liga Champions 2011/2012 di Camp Nou Stadium, Barcelona (13/9/2011). Thiago Silva. Thiago Silva menghabiskan total 3 musim membela AC Milan sejak didatangkan dari Fluminense pada tengah musim 2008/2009 dengan mahar 10 juta euro. Pada awal musim 2012/2013 AC Milan melepasnya ke PSG dengan nilai transfer 42 juta euro atau kini setara Rp687 miliar. (AFP/Josep Lago)

Thiago Silva meninggalkan AC Milan pada musim panas yang sama dengan kepergian Zlatan Ibrahimovic. Situasi ini menunjukkan kondisi keuangan Milan yang sedang tidak stabil saat itu.

Klub terpaksa melepas dua pemain bintang demi menyeimbangkan neraca finansial. Keputusan tersebut menjadi pukulan besar bagi kekuatan tim.

Silva sendiri sempat berada dalam situasi yang tidak pasti terkait masa depannya. Berbagai pernyataan dari pihak klub membuat situasi semakin membingungkan.

Ia bahkan sempat menandatangani kontrak baru sebelum akhirnya dijual ke Paris Saint-Germain. Presiden klub Silvio Berlusconi menyebut transfer itu diperlukan untuk memperbaiki kondisi keuangan.

6. Manuel Locatelli ke Sassuolo (2019)

3. Manuel Locatelli (AC Milan) - Gelandang berusia 19 tahun ini disebut-sebut sebagai The Next Andrea Pirlo. Di usainya yang masih belia, dirinya sudah mampu menjadi pilihan utama pelatih Vicenzo Montella di skuat Rossoneri. (EPA/Daniel Dal Zennaro)

AC Milan beberapa kali melepas gelandang muda berbakat terlalu cepat. Nama seperti Riccardo Saponara dan Bryan Cristante termasuk di antaranya.

Namun dari semua itu, kepergian Manuel Locatelli menjadi yang paling disesali. Ia berkembang pesat setelah pindah ke Sassuolo, awalnya sebagai pemain pinjaman lalu dipermanenkan.

Locatelli kemudian menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik di Serie A. Ia juga tampil gemilang bersama tim nasional Italia saat menjuarai Euro 2020.

Kini ia melanjutkan karier bersama Juventus. Kepergiannya dari Milan tak lepas dari penilaian Gennaro Gattuso yang saat itu tidak melihatnya cocok sebagai gelandang bertahan.

7. Sandro Tonali ke Newcastle (2023)

Sebagai salah satu klub raksasa di Eropa, AC Milan terkenal lihai dalam setiap bursa transfer pemain. Selain kerap mendatangkan pemain-pemain mahal, AC Milan juga beberapa kali meraih cuan besar saat menjual pemainnya ke klub lain. Teranyar, Rossoneri baru saja memecahkan rekor penjualan sepanjang masa saat melepas Sandro Tonali ke Newcastle United pada bursa transfer pemain musim 2023/2024. Berikut daftar 5 besar penjualan termahal AC Milan sepanjang masa. (AFP/Miguel Medina)

Sandro Tonali bergabung dengan AC Milan dari Brescia saat berusia 20 tahun. Ia dianggap sebagai masa depan lini tengah Italia sekaligus penggemar sejati klub.

Tonali berkembang menjadi pemain kunci dan membantu Milan meraih gelar Serie A 2022. Namun keputusan menjualnya ke Newcastle United pada 2023 mengejutkan banyak pihak.

Nilai transfer sebesar 70 juta euro sulit ditolak dan menjadikannya pemain Italia termahal saat itu. Situasi menjadi rumit karena ia kemudian mendapat larangan bermain selama sepuluh bulan akibat pelanggaran terkait judi.

Meski demikian, Tonali mampu bangkit dan kembali menunjukkan kualitasnya. Perkembangannya bahkan membuat banyak tim besar Eropa tertarik, menandakan Milan mungkin melepasnya terlalu cepat.

8. Lucas Paqueta ke Lyon (2020)

Gelandang AC Milan, Lucas Paqueta merayakan gol yang kemudian dianulir oleh VAR saat bertanding melawan Empoli pada laga Serie A Italia di stadion San Siro pada tanggal 22 Februari 2019. AC Milan resmi melepas Lucas Paqueta ke Olympique Lyon. (AFP/Marco Bertorello)

AC Milan beberapa kali mencoba mengulang kesuksesan transfer Kaka dalam 15 tahun terakhir. Salah satu upaya awal terlihat dari kedatangan Alexandre Pato yang sempat tampil menjanjikan.

Namun performa Pato kemudian menurun seiring masalah kebugaran yang mengganggu. Kariernya di Milan pun tidak berkembang sesuai harapan awal.

Nama lain yang mengikuti jejak serupa adalah Lucas Paqueta yang datang dari Brasil dengan reputasi besar. Ia dikenal sebagai pemain kreatif saat membela Flamengo dengan kebebasan bermain tinggi.

Adaptasinya di sepak bola Eropa tidak berjalan mulus karena tuntutan disiplin taktik. Meski begitu, performanya bersama Lyon dan kini West Ham menunjukkan Milan mungkin terlalu cepat melepasnya.

9. Gianluigi Donnarumma ke PSG (2021)

Kiper AC Milan, Gianluigi Donnarumma, saat tampil melawan Sampdoria pada laga Serie A di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Minggu (5/2/2017). (EPA/Daniel Dal Zennaro)

Gianluigi Donnarumma membuktikan kualitasnya di Euro 2020 saat masih berusia 22 tahun. Ia sudah dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di Eropa pada usia yang sangat muda.

Bersama AC Milan, Donnarumma telah mencatat lebih dari 250 penampilan sejak debut di usia 16 tahun. Perkembangannya membuatnya digadang-gadang menjadi legenda klub.

Namun ia justru meninggalkan Milan pada 2021 dengan status bebas transfer menuju Paris Saint-Germain. Kepergian ini memicu kekecewaan besar di kalangan pendukung.

Milan seharusnya bisa mendapatkan nilai transfer besar dari pemain sekelas dirinya. Kegagalan memperpanjang kontraknya menjadi kerugian signifikan bagi klub.

10. Hakan Calhanoglu ke Inter (2021)

Hakan Calhanoglu - Pemain Turki ini tak dipungkiri telah berkontribusi besar untuk AC Milan musim lalu. Namun keputusan berani diambil Calhanoglu untuk membelot ke Inter Milan. Dengan segala atribut yang dimiliki, ia diprediksi akan menjadi sosok vital bagi Inter musim ini. (Foto: AFP/Miguel Medina)

Hakan Calhanoglu juga menjadi contoh kegagalan AC Milan dalam mempertahankan pemain penting. Ia tidak berhasil diyakinkan untuk menandatangani kontrak baru.

Akibatnya, Calhanoglu hengkang dengan status bebas transfer. Ia kemudian bergabung dengan rival sekota, Inter Milan.

Keputusan tersebut memicu kemarahan besar dari para pendukung Milan. Situasi semakin panas ketika ia mencetak gol dalam derby pertama musim 2021/22 melawan mantan timnya.

Dari sisi finansial, Milan kembali mengalami kerugian. Mereka kehilangan potensi pemasukan besar dari biaya transfer pemain.

Sumber: Football Transfers

Persaingan Ketat Liga Italia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya