Declan Rice Siap Hadapi Tekanan Publik dan Kritik Suporter Inggris di Piala Dunia 2026

Declan Rice bersiap menghadapi pasang surut dukungan suporter Inggris di Piala Dunia 2026 dan menekankan pentingnya kebersamaan dalam skuad Thomas Tuchel.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 16 Mei 2026, 17:47 WIB
Gelandang Timnas Inggris, Declan Rice, enggan merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Republik Irlandia dalam laga Grup 2 Liga B UEFA Nations League 2024/2025 di Aviva Stadium, Dublin, Minggu (8/9/2024) dini hari WIB. (PAUL FAITH / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kesiapan mental dalam menghadapi tekanan masif menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 telah ditanamkan oleh Declan Rice. Gelandang andalan Arsenal tersebut sangat mengerti betapa besarnya ekspektasi yang dibebankan publik Inggris kepada tim nasional mereka, terlebih setelah penantian yang sangat lama untuk merengkuh trofi di level internasional.

Kompetisi yang akan bergulir pada Juni esok bakal menjadi pembuktian krusial bagi armada yang dinakhodai oleh Thomas Tuchel. Atensi terhadap skuad The Three Lions dipastikan bakal berlipat ganda karena masyarakat menaruh harapan besar agar generasi pemain saat ini bisa menyudahi dahaga gelar yang telah berjalan selama berdekade-dekade.

Sepanjang sejarah, Inggris baru mengoleksi satu trofi Piala Dunia yang didapat pada tahun 1966 kala bertindak sebagai tuan rumah. Semenjak momen tersebut, keberhasilan serupa belum pernah lagi bisa direplikasi. Sekarang, pundak Rice beserta koleganya memikul beban untuk mengantarkan kembali Inggris ke puncak kejayaan sepak bola global.

Langkah perdana Inggris bakal langsung diuji lewat duel sengit melawan Kroasia yang bertempat di Arlington, Texas, pada 17 Juni. Meraih angka penuh pada pertandingan perdana dipandang sebagai hal krusial guna merawat motivasi serta mendongkrak rasa percaya diri seluruh anggota tim sepanjang kejuaraan berlangsung.

Hubungan Harmonis Skuad Three Lions

Dua gelandang Timnas Inggris, Jack Grealish dan Declan Rice, sama-sama mencetak gol dalam laga kontra Republik Irlandia di Grup 2 Liga B UEFA Nations League di Aviva Stadion, Dublin, Minggu (8/9/2024) dini hari WIB. (PAUL FAITH / AFP)

Dalam pandangan Rice, atmosfer di dalam ruang ganti timnas Inggris saat ini jauh lebih kondusif sekiranya dikomparasikan dengan era-era terdahulu.

Pada masa lampau, sengitnya persaingan di level klub kerap dituding sebagai pemicu renggangnya keharmonisan antarpemain ketika mengenakan seragam tim nasional. Dampaknya, generasi emas Inggris terdahulu selalu gagal menjawab ekspektasi di turnamen-turnamen mayor.

Rice mengklaim bahwa situasi negatif tersebut kini telah terkikis. Keakraban yang terjalin antarpemain di luar lapangan hijau justru menjadi salah satu pilar kekuatan utama armada Inggris saat ini. Rivalitas yang terjadi di kompetisi domestik terbukti tidak lagi memengaruhi profesionalisme mereka kala mengemban tugas negara.

"Apakah itu melalui media sosial atau dalam kehidupan nyata, Anda dapat melihat bahwa ada hubungan nyata di antara kami," kata Declan Rice kepada British Vogue.

"Anda jelas mendengar tentang generasi yang lebih tua berbicara tentang bagaimana mereka tidak cocok dan bagaimana mereka tidak bisa terhubung dan bermain bersama. Tapi saya pikir dengan kami, itulah mengapa, selama beberapa tahun terakhir dengan Inggris, kami melakukannya dengan sangat baik, karena kami dekat di dalam dan di luar lapangan," tambahnya.

"Kami jelas semua bermain melawan satu sama lain, tapi sepak bola tidak seperti itu lagi. Banyak orang memiliki sahabat dari tim lawan, menghabiskan banyak waktu dengan pemain dari tim lawan. With England, we all get on. Kami selalu menantikan untuk bertemu satu sama lain. Ini adalah pelarian yang menyenangkan," tutur gelandang Arsenal tersebut.

Tekanan Suporter

Gelandang Timnas Inggris, Declan Rice. (Glyn KIRK / AFP)

Di samping itu, Rice pun paham betul bahwa menyandang status sebagai penggawa Inggris menuntut kesiapan untuk menerima perubahan atmosfer publik yang terjadi secara kilat. Gelombang pujian dan caci maki dapat silih berganti datang hanya dalam hitungan hari, murni bergantung pada hasil akhir yang didapatkan di lapangan.

Pemain yang menginjak usia 27 tahun ini lebih memilih untuk memandang situasi tersebut secara realistis. Menurutnya, mengalihkan konsentrasi penuh pada performa di lapangan jauh lebih esensial ketimbang terhanyut oleh dinamika opini masyarakat ataupun sorotan media massa.

"Tantangan terbesar adalah menghadapi segala hal yang datang dengan menjadi seorang pemain Inggris," ujar Declan Rice.

"Ini akan menjadi acara sepak bola yang paling banyak ditonton dalam empat tahun terakhir. Satu menit Anda akan dibenci, satu menit Anda akan dicintai."

"Itu selalu berubah dalam sepak bola. Anda hanya harus menerimanya dengan lapang dada," ucap mantan pemain West Ham tersebut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya