Blunder 4 Mantan Manajer Manchester United yang Wajib Dihindari Michael Carrick

Michael Carrick layak belajar agar tidak mengulang kesalahan yang dibuat oleh empat pendahulunya di Manchester United.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 18 Mei 2026, 06:30 WIB
Michael Carrick adalah pelatih Manchester United. (Darren Staples / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Berita menggembirakan datang dari Manchester United. Dalam waktu dekat, Michael Carrick diperkirakan akan diumumkan sebagai manajer tetap klub setelah mencapai kesepakatan dengan pihak manajemen.

Sesuai dengan laporan dari jurnalis BBC Sport, Sami Mokbel, seluruh proses negosiasi telah selesai dan kini hanya menunggu tahap administrasi sebelum pengumuman resmi dilakukan. Keputusan ini diambil setelah Carrick berhasil membawa perubahan yang signifikan sejak ia menjabat sebagai pelatih pada bulan Januari yang lalu.

Legenda lini tengah Setan Merah itu langsung menunjukkan dampak positif di awal masa kepemimpinannya. Carrick memulai karir kepelatihannya dengan meraih kemenangan penting melawan tim-tim kuat seperti Manchester City dan Arsenal.

Performa yang mengesankan tersebut membuat para petinggi klub yakin bahwa Carrick adalah pilihan yang tepat untuk memimpin Manchester United dalam jangka panjang, terutama setelah ia berhasil memastikan tiket Liga Champions untuk musim depan.

Hingga saat ini, Carrick telah memimpin United dalam 15 laga dengan hasil 10 kemenangan, dua hasil imbang, dan hanya dua kekalahan. Statistik tersebut menjadi alasan kuat bagi manajemen untuk memberikan kepercayaan penuh kepadanya.

Selain meneruskan tren positif Setan Merah, Carrick juga diingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh empat pendahulunya.

1. Keras Kepala seperti Ruben Amorim

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, menunjukkan ekspresi kecewa dengan memegang kepalanya saat pertandingan Liga Inggris 2024/2025 melawan West Ham di Old Trafford, Manchester, Inggris, pada hari Minggu.

Ruben Amorim tiba di Manchester United dengan membawa serta strategi 3-4-3 yang telah terbukti sukses saat ia melatih Sporting CP. Akan tetapi, formasi tersebut memerlukan pemain dengan karakteristik tertentu yang tidak tersedia dalam skuad United pada waktu itu.

Walaupun performa tim semakin menurun, Amorim tetap teguh pada prinsipnya dan tidak mau mengubah filosofi bermainnya. Ia bahkan pernah mengungkapkan, "Saya lebih memilih dipecat daripada harus mengubah gaya bermain."

Sikapnya yang terlalu kaku ini kemudian dianggap sebagai salah satu faktor utama kegagalannya di Old Trafford. Sistem yang tidak efektif terus dipaksakan, dan pada akhirnya, kariernya di Manchester berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.

3. Bertaruh dalam Transfer Besar ala Erik Ten Hag

Erik ten Hag baru-baru ini mengakui bahwa pemain yang direkrut Manchester United di musim sebelumnya tidak memenuhi target. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mendatangkan Lisandro.

Erik ten Hag telah mengambil beberapa keputusan penting terkait transfer selama masa kepemimpinannya di Manchester United, tetapi banyak berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan. Salah satu transfer yang paling mengecewakan adalah Antony, yang dibeli dengan harga lebih dari 80 juta pound, menjadikannya salah satu pembelian terburuk dalam sejarah Premier League.

Selain itu, Ten Hag mengambil langkah untuk melepas David de Gea dan menggantinya dengan Andre Onana. Sayangnya, kiper asal Kamerun ini sering kali melakukan kesalahan yang merugikan tim, dan pada akhirnya ia juga harus meninggalkan klub.

Ketika tim membutuhkan sosok striker yang tajam, Ten Hag memutuskan untuk merekrut Rasmus Hojlund, yang masih dianggap sebagai proyek jangka panjang. Namun, keputusan tersebut tidak memberikan dampak yang diharapkan secara langsung bagi MU, bahkan kini penyerang asal Denmark tersebut disebut-sebut berpotensi untuk meninggalkan Old Trafford.

3. Kelemahan dalam Membangun Identitas Tim

Karakter Ole Gunnar Solskjaer yang akrab dengan pemain menjadi faktor utama dalam pencalonannya sebagai pelatih pengganti Thomas Tuchel di Bayern Munchen. Diharapkan ia dapat

Ole Gunnar Solskjaer pernah memberikan harapan baru bagi Manchester United, namun selama hampir tiga tahun mengasuh tim, ia dinilai tidak berhasil menciptakan identitas permainan yang jelas.

Banyak pengamat berpendapat bahwa di bawah kepemimpinannya, United tidak menunjukkan gaya bermain yang konsisten. Tim cenderung mengandalkan strategi serangan balik dan mengalami kesulitan saat berhadapan dengan lawan yang menerapkan permainan bertahan atau memiliki penguasaan bola yang lebih baik.

Meskipun dikenal dengan beberapa comeback yang dramatis, performa semacam itu dianggap tidak berkelanjutan untuk masa depan tim. Ketika hasil buruk mulai menghampiri, permainan United pun langsung kehilangan arah dan situasi semakin memburuk dengan cepat.

4. Konflik Internal Berlebihan yang Dipicu Jose Mourinho

Dikabarkan bahwa hubungan antara manajer Manchester United, Jose Mourinho, dan Paul Pogba mulai tidak harmonis.

Jose Mourinho dikenal sebagai figur yang memiliki karakter yang kuat serta sering terlibat dalam konfrontasi. Namun, pendekatan tersebut ternyata menjadi salah satu kendala saat ia melatih Manchester United.

Dalam perjalanannya, Mourinho beberapa kali berselisih dengan pemainnya sendiri, termasuk dengan Luke Shaw dan Paul Pogba. Salah satu momen yang paling menghebohkan adalah ketika perselisihan antara Mourinho dan Pogba terekam kamera sebelum sesi latihan, yang langsung menjadi perhatian besar media.

Selain itu, komentarnya mengenai "football heritage" setelah timnya mengalami kekalahan di kompetisi Eropa juga memicu kontroversi. Pernyataan tersebut dianggap meremehkan sejarah besar Manchester United di Liga Champions, dan hal ini semakin memperburuk hubungan Mourinho dengan para penggemar, pemain, dan juga pihak manajemen klub. Dengan situasi yang semakin memburuk, tampaknya Mourinho harus menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan posisinya di klub.

 

Sumber: Wiwig Prayugi (Bola.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya