Liputan6.com, Jakarta - Beppe Marotta akhirnya membongkar kisah di balik perpisahannya dengan Juventus yang terjadi pada tahun 2018 silam. Mantan direktur umum tim asal Turin tersebut memastikan bahwa keputusannya untuk hengkang bukan karena kedatangan Cristiano Ronaldo, menyangkal isu yang selama ini berkembang luas di Italia.
Marotta membeberkan bahwa perombakan di jajaran kepengurusan Juventus menjadi faktor utama yang mengakhiri masa baktinya. Usai mengabdi selama delapan tahun bersama Bianconeri, ia memantapkan diri untuk pergi dan langsung merapat ke klub rival, Inter Milan, hanya dalam hitungan minggu.
Advertisement
Sekarang, figur yang menduduki posisi sebagai Presiden Inter tersebut juga membagikan beberapa kebijakan krusial yang pernah diputuskannya. Hal itu mencakup penunjukan Antonio Conte, negosiasi yang nyaris membawa Massimiliano Allegri, hingga mandat terbaru kepada Cristian Chivu sebagai nakhoda anyar Nerazzurri.
Perpindahan karier Marotta dari Turin ke Milan menjadi salah satu dinamika paling disorot dalam kancah sepak bola Italia terkini. Berbagai langkah strategis yang ia terapkan terbukti sukses mengantarkan Inter merengkuh rentetan gelar domestik serta menembus babak final Liga Champions sebanyak dua kali.
Alasan Tinggalkan Juventus, Bukan Karena CR7
Kabar burung seputar penolakan Marotta terhadap megatransfer Cristiano Ronaldo sempat berembus kencang setelah dirinya menyudahi kontrak dengan Juventus. Pada periode tersebut, kedatangan bintang Portugal itu dikabarkan atas desakan dari Andrea Agnelli dan Fabio Paratici.
Kendati demikian, Marotta mengklarifikasi bahwa perbedaan pandangan itu sama sekali bukan pemicu dirinya angkat kaki. Walaupun mengakui kurang sepaham dengan perekrutan tersebut, ia tetap menaruh rasa hormat atas langkah yang diambil oleh jajaran direksi.
“Itu sudah menjadi semacam legenda urban sekarang. Memang benar saya tidak setuju dengan transfer itu, tetapi itu tidak pernah menjadi pertengkaran. Presiden membuat pilihannya dan saya menerimanya,” ujar Marotta.
Ia menambahkan bahwa Andrea Agnelli pada momen tersebut berniat memegang kendali yang lebih dominan dalam operasional manajemen Juventus. Perubahan ritme kerja inilah yang membuat kedua belah pihak sepakat berpisah arah tanpa merusak relasi personal mereka.
"Ketika tiba hari saya harus pergi, itu hari yang sedih setelah delapan tahun. Tetapi saya yakin ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka, dan itu terjadi dalam 24 jam. Saya sangat terkejut dengan panggilan dari Presiden Inter, Steven Zhang, sampai saya pikir itu adalah lelucon."
Inter Sempat Dekati Allegri Sebelum Inzaghi
Begitu resmi memegang kendali di Inter, Marotta langsung menginisiasi beberapa manuver penting di sektor juru taktik. Salah satu tindakan pertamanya adalah mendaratkan Antonio Conte untuk menggantikan posisi Luciano Spalletti.
Bagi Marotta, armada Inter kala itu memerlukan pembenahan berskala besar. Conte dinilai sebagai figur ideal lantaran mempunyai ambisi tinggi sekaligus kepemimpinan yang tangguh di area ruang ganti, walaupun ia tidak menampik jika berkolaborasi dengan Conte menuntut energi yang besar.
“Ketika saya datang ke Inter, Luciano Spalletti sudah menjadi bagian dari masa lalu, jadi dengan segala hormat kami membutuhkan perubahan dan memilih Conte,” kata Marotta.
Lebih lanjut, ia memaparkan rahasia dapur klub yang sempat mengadakan penjajakan dengan Massimiliano Allegri sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Simone Inzaghi pada tahun 2021. Proses komunikasi tersebut pada akhirnya buntu akibat ketidakcocokan visi antara kedua belah pihak.
"Saya tidak akan menyangkal bahwa kami bertemu dengan Allegri sebelum merekrut Inzaghi, karena dia telah bertukar cukup banyak kata dengan Juve setelah menolak Real Madrid. Selain itu, diskusi kami menunjukkan bahwa rencananya dan rencana kami benar-benar tidak dapat menemukan titik temu," ungkapnya.