Aturan Baru Piala Dunia 2026, Paksa Peserta Ubah Strategi Bermain

Pierluigi Collina, Ketua Komite Wasit FIFA, mengungkapkan alasan di balik penerapan aturan baru di Piala Dunia 2026.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 03 Juni 2026, 15:30 WIB
Ilustrasi trofi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 akan membawa sejumlah perubahan signifikan pada peraturan pertandingan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas permainan dan pengalaman semua pihak yang terlibat.

International Football Association Board (IFAB) bersama FIFA telah menyetujui enam aturan baru yang dirancang untuk mengurangi waktu yang terbuang, meningkatkan ritme permainan, dan memberikan pengalaman yang lebih baik baik untuk pemain maupun penonton. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan pertandingan dapat berlangsung lebih dinamis dan menarik.

Pierluigi Collina, yang menjabat sebagai Ketua Komite Wasit FIFA, memberikan penjelasan mengenai alasan di balik perubahan tersebut. "Kami berusaha membersihkan permainan ini semaksimal mungkin," tegas Collina, menunjukkan komitmen FIFA untuk menjaga integritas permainan.

Beberapa dari aturan baru ini diperkirakan akan berdampak besar pada strategi yang diterapkan oleh tim, terutama dalam situasi-situasi bola mati. Perubahan ini diharapkan dapat mempengaruhi cara pelatih dan pemain merencanakan taktik mereka di lapangan.

Hitung Mundur agar Tidak Membuang Waktu

Wasit senior Collina dari AFP.

Perubahan signifikan yang diterapkan dalam pertandingan adalah pengenalan hitung mundur selama lima detik untuk tendangan gawang dan lemparan ke dalam. Di samping itu, pemain yang digantikan harus meninggalkan lapangan dalam waktu maksimum sepuluh detik.

Aturan baru ini bertujuan untuk mengurangi praktik pengunduran waktu yang sering terjadi, terutama ketika sebuah tim berusaha mempertahankan keunggulan yang dimiliki. Collina menambahkan bahwa wasit akan tetap memiliki kebebasan dalam menangani situasi tertentu.jaga kelancaran permainan.

“Pada sepak pojok, ada semacam jeda seremonial ketika para bek tengah datang dari sisi lapangan yang berlawanan, yang tentu membutuhkan waktu,” ungkap Collina. “Contoh lain adalah ketika seorang pemain harus datang dari jarak yang jauh untuk melakukan lemparan ke dalam ke area penalti. Dalam situasi seperti itu, sedikit waktu tambahan bisa diberikan,” lanjutnya. 

VAR Punya Wewenang Lebih Besar

Deniz Aytekin, wasit asal Jerman, memeriksa layar VAR dalam pertandingan persahabatan antara Inggris dan Italia yang berlangsung di London pada 27 Maret 2018. (AFP/Ian Kington)

Peran Teknologi Video Assistant Referee (VAR) semakin signifikan dalam Piala Dunia 2026. Dengan adanya inovasi terbaru, VAR kini memiliki kemampuan untuk meninjau kembali kartu kuning kedua yang mengakibatkan kartu merah. Selain itu, VAR juga dapat memeriksa kesalahan identifikasi pemain yang menerima kartu kuning. Lebih jauh lagi, VAR diizinkan untuk memperbaiki keputusan terkait sepak pojok yang salah, asalkan koreksi tersebut dilakukan sebelum pertandingan dilanjutkan. Collina memberikan penjelasan mengenai perubahan ini.

“Dari sudut pandang kami, sulit dipahami ketika sebuah sepak pojok diberikan secara keliru tetapi tetap dilanjutkan,” ungkap Collina. Ia menegaskan, “Saya ingin sangat jelas, kami tidak menunda pertandingan. Kami tidak membutuhkan tinjauan dari wasit. Jika kesalahan itu langsung terlihat sebelum sepak pojok diambil, maka keputusan bisa diubah.” 

Kiper Cedera dan Larangan Menutup Mulut

Pemain timnas Jerman menutup mulut mereka saat sesi foto sebelum pertandingan Grup E Piala Dunia 2022 Qatar melawan Jepang di Stadion Internasional Khalifa, Doha.

Aturan lain yang cukup menarik adalah pelarangan berdiskusi mengenai taktik ketika seorang kiper terjatuh akibat cedera. Dalam kondisi tersebut, pemain dari kedua tim dilarang untuk mendekati area teknis agar mendapatkan instruksi dari pelatih masing-masing.

Di samping itu, pemain yang menutupi mulut saat terlibat konfrontasi dengan lawan atau wasit dapat menghadapi risiko mendapatkan kartu merah. Collina menekankan bahwa peraturan ini tidak berlaku untuk percakapan yang bersifat biasa. "Jika itu hanya percakapan biasa yang bersahabat, mereka tetap bisa melakukannya tanpa masalah," tegasnya.

Munculnya Peraturan yang Disebut 'Anti-Arsenal'

Aturan baru yang paling banyak diperbincangkan saat ini disebut sebagai "anti-Arsenal". Aturan ini ditujukan untuk menghukum pemain yang secara sengaja menghalangi atau mencegah lawan bergerak saat menghadapi tendangan bebas atau sepak pojok.

FIFA dan IFAB berupaya untuk mengurangi praktik dorong-mendorong dan blokade yang sering terjadi pada situasi bola mati. Aturan ini diperkirakan akan berdampak signifikan bagi peserta yang bakal mencoba meniru strategi Arsenal, tim yang dikenal sangat mahir dalam memanfaatkan peluang dari skema bola mati sepanjang musim 2025/2026.

Salah satu contoh yang sering diangkat dalam diskusi mengenai aturan ini adalah gol yang dicetak oleh Timnas Inggris saat mereka bermain imbang 1-1 dengan Uruguay pada bulan Maret lalu. Dalam momen tersebut, Adam Wharton dan Harvey Barnes melakukan blok terhadap pemain bertahan, yang memungkinkan Ben White untuk mencetak gol.

Aturan Baru Sudah Diterapkan

Penerapan regulasi baru sudah mulai terlihat dalam pertandingan persahabatan antara Timnas Jepang dan Islandia. Pada menit ke-85, Kristian Hlynsson memerlukan waktu lebih dari 10 detik untuk meninggalkan lapangan setelah digantikan, yang membuat pemain penggantinya harus menunggu hampir satu menit sebelum diizinkan masuk ke lapangan.

Situasi ini menjadi kerugian bagi tim Islandia, karena Jepang berhasil mencetak gol saat mereka memiliki keunggulan jumlah pemain di lapangan. Dengan adanya perubahan-perubahan ini, Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menyajikan pertandingan yang lebih cepat, lebih teratur, dan lebih sedikit kontroversi dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya.

 

Sumber: Benediktus Gerendo Pradigdo (Bola.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya