4 Alasan Manchester United Tepat Boyong Ederson

Manchester United mengambil langkat tepat dengan memboyong Ederson dari Atalanta. Berikut alasannya.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 06 Juni 2026, 08:00 WIB
Gelandang Atalanta, Ederson dikabarkan segera gabung Manchester United. (Piero CRUCIATTI / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Michael Carrick, manajer Manchester United, hampir menyelesaikan proses rekrutmen pertamanya di bursa transfer musim panas 2025.

Berita terbaru menyebutkan bahwa MU telah mencapai kesepakatan dengan Atalanta untuk merekrut gelandang asal Brasil, Ederson, dan kini tinggal menyelesaikan beberapa detail, termasuk tes medis.

Pemain berusia 26 tahun tersebut akan resmi bergabung ke Old Trafford dengan kontrak selama lima tahun. Untuk mendapatkan Ederson, MU harus mengeluarkan dana sebesar 39 juta poundsterling (sekitar Rp936,9 miliar).

Kesepakatan ini mencakup pembayaran awal sebesar 35 juta poundsterling (sekitar Rp 840,8 miliar), ditambah dengan bonus sebesar 4 juta poundsterling (sekitar Rp 96 miliar) yang akan diberikan berdasarkan pencapaian tertentu.

Persyaratan pribadi juga telah disetujui. Ederson diharapkan akan menandatangani kontrak yang berlaku hingga Juni 2030 dengan opsi perpanjangan selama satu tahun.

Ederson dijadwalkan untuk menjalani tes medis dalam waktu dekat, dan semua pihak berharap bahwa proses transfer ini bisa diselesaikan pada awal Juli 2026.

Penampilan Ederson yang mengesankan bersama Atalanta di Serie A membuatnya berpotensi menjadi peningkatan yang signifikan dibandingkan Manuel Ugarte. Kepergian Casemiro juga menambah urgensi bagi Setan Merah untuk memperkuat lini tengah mereka di bawah kepemimpinan Michael Carrick.

Sejak awal bursa transfer musim panas, Manchester United memang telah menempatkan lini tengah sebagai prioritas utama. Sebenarnya, area ini sudah direncanakan untuk diperkuat sejak tahun lalu. Namun, kepergian Casemiro dan ketidakpastian mengenai masa depan Ugarte di Old Trafford memaksa Setan Merah untuk segera mencari solusi.

Meskipun gelandang berusia 26 tahun tersebut tidak terpilih dalam skuad Piala Dunia Brasil yang dipilih oleh Carlo Ancelotti, ia telah lama menjadi incaran klub-klub Inggris. Liverpool sempat menunjukkan ketertarikan, tetapi saat ini Manchester United berada di posisi terdepan untuk mendapatkan tanda tangannya.

Walaupun Ederson bukanlah solusi tunggal untuk semua masalah di lini tengah United, ia diyakini sebagai langkah signifikan menuju perbaikan.

Berikut ini adalah empat alasan mengapa Manchester United tepat mendatangkan Ederson ke Old Trafford, seperti yang diungkapkan dalam The Telegraph, Kamis (4/6/2026).

 

1. Tambah Energi di Sektor Tengah

Liverpool telah menyadari kemampuan Ederson ketika Atalanta mengalahkan The Reds di Liga Europa. Saat ini, Ederson terikat kontrak dengan Atalanta hingga tahun 2027.

Musim lalu, Manchester United menghadapi salah satu tantangan terbesar, yaitu kurangnya dinamisme di lini tengah. Meskipun Ugarte memiliki kemampuan yang baik dalam merebut bola, ia mengalami keterbatasan saat harus membangun serangan setelah berhasil menguasai bola. Kelemahan ini sangat terlihat ketika tim kesulitan untuk mengalirkan bola ke depan. Kehadiran Ederson diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Menurut data yang dirilis oleh Squawka, Ederson mencatatkan rata-rata 14,8 umpan progresif ke depan per 90 menit selama bermain di Serie A musim lalu, angka ini lebih tinggi dibandingkan Ugarte yang hanya mencapai 13,1 umpan. Meskipun begitu, catatan tersebut masih berada di bawah Casemiro yang mencatat 19,6 umpan progresif per 90 menit.

Namun, perbandingan ini juga dipengaruhi oleh gaya bermain masing-masing tim. Atalanta memiliki rata-rata penguasaan bola sebesar 54,9 persen, sedangkan Manchester United hanya 51,6 persen. Sementara Atalanta cenderung lebih sabar dalam membangun serangan, United lebih sering berusaha melakukan serangan cepat setelah merebut bola.

2. Dapat Mendukung Serangan

Gelandang Atalanta, Ederson Jose Dos Santos Lourenco da Silva, nomor punggung 13, menguasai bola di hadapan Geoffrey Kondogbia, gelandang Marseille nomor 19, dalam pertandingan leg pertama semifinal Liga.

Keterampilan Ederson dalam melakukan transisi menyerang tidak hanya dapat dilihat dari jumlah umpan yang ia berikan. Pada musim lalu, ia berhasil menciptakan rata-rata 1,1 peluang setiap pertandingan di Serie A.

Meskipun angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Casemiro yang mencatat 1,3 peluang per laga, tetapi tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ugarte yang hanya menghasilkan 0,4 peluang. Tentu saja, peran utama Ederson bukanlah sebagai kreator serangan yang utama. Tugas tersebut masih dipegang oleh Bruno Fernandes.

Namun, memiliki seorang gelandang yang mampu memberikan umpan kepada Bruno sebelum peluang itu tercipta adalah elemen yang sangat penting dalam sistem permainan Manchester United. Dengan adanya kontribusi dari Ederson dalam menciptakan peluang, tim dapat lebih efektif dalam menyerang.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Ederson bukanlah pemain yang berfokus pada penciptaan peluang, kehadirannya tetap memberikan dampak yang signifikan dalam permainan tim. Keterlibatan Ederson dalam transisi menyerang menjadi salah satu kunci dalam strategi permainan MU.

3. Tangguh dalam Meredam Serangan

Dalam pertandingan Liga Champions antara Atalanta dan Athletic Club di Bergamo pada 22 Januari 2026, Ederson dan Alejandro Rego saling berebut bola. (Stefano Nicoli/Lapresse via AP)

Ederson tidak hanya berkontribusi dalam serangan, tetapi juga menunjukkan kemampuan bertahan yang cukup baik. Rata-rata tekel yang ia lakukan musim lalu tercatat sebesar 2,4 per 90 menit, meskipun angka tersebut masih di bawah Casemiro yang mencapai 3,1 dan Ugarte dengan 4,7.

Namun, Ederson mampu menutupi kekurangan ini dengan tingkat keberhasilan dalam duel darat yang lebih tinggi, yaitu 56,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah tekel yang ia lakukan lebih sedikit, ia tetap efektif dalam mempertahankan posisi.

Selain itu, perlu dicatat bahwa jumlah tekel yang lebih rendah tersebut mungkin dipengaruhi oleh fakta bahwa Atalanta lebih sering menguasai bola. Dengan demikian, Ederson tidak perlu melakukan aksi defensif secara berlebihan.

Ini menunjukkan bahwa peran Ederson dalam tim tidak hanya terbatas pada aspek menyerang, tetapi juga mencakup aspek bertahan yang penting dalam permainan. Keberhasilannya dalam duel dan kontribusinya dalam mempertahankan posisi menjadi faktor kunci dalam performa tim secara keseluruhan.

4. Pasangan Sempurna Kobbie Mainoo

Kobbie Mainoo, gelandang dari Manchester United. (Oli Scarff/AFP)

Ederson dianggap sangat sesuai untuk bermain berpasangan dengan Kobbie Mainoo dalam skema 4-2-3-1 yang menjadi favorit Michael Carrick. Mainoo merupakan jenis gelandang yang menunjukkan performa terbaiknya ketika diberikan kebebasan untuk ikut serta dalam serangan.

Dengan kemampuan dribbling yang mumpuni, ia mampu menghadirkan ancaman dari posisi lini kedua. Oleh karena itu, kehadiran rekan yang lebih disiplin dalam bertahan akan sangat mendukung pengembangan potensi Mainoo. Ederson dapat memberikan keseimbangan yang diperlukan dalam hal ini.

Dengan keahlian bertahan yang solid, Ederson juga memiliki kemampuan untuk mengalirkan bola ke depan secara efektif. Kombinasi dari kedua pemain ini dapat menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi performa tim secara keseluruhan.

 

Sumber: Yus Mei Sawitri (Bola.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya