Liputan6.com, Jakarta - Veda Ega Pratama kembali mencuri perhatian dalam lanjutan balapan Moto3 2026 di Sirkuit Brno, Republik Ceko. Pembalap muda andalan Indonesia itu tampil memukau dengan finis kelima, meski memulai balapan dari grid ke-20 pada Minggu (21/6/2026).
Pembalap dengan nomor motor 9 itu melakukan aksi comeback yang luar biasa hingga berhasil mengakhiri balapan di barisan depan dan bahkan hampir mendapatkan podium. Padahal posisi startnya sama sekali tidak diunggulkan
Advertisement
Veda Ega Pratama harus memulai balapan dari grid ke-20 lantaran menerima hukuman penalti 12 grid dari FIM MotoGP Steward Panel. Sanksi itu diberikan akibat melaju sangat lambat di lebih dari satu bagian lintasan dan atau memiliki sektor lambat yang melebihi 135 persen dari sektor tercepat.
Namu start dari belakang tak membuat Veda Ega patah arang. Nyatanya ia mampu menyentuh garis finis dengan selisih waktu yang sangat tipis, hanya terpaut +0.900 detik dari sang pemenang, Hakim Danish asal Malaysia.
Reaksi Veda Ega
Meski gagal mendapatlan podium, performa Veda Ega mengundang decak kagum. Ia disebut sebagai pembalap terbaik karena mampu melesat 15 tingkat.
Veda pun mengungkapkan perasaannya usai finis sensasional di Brno. Ia mengaku cukup campur aduk, antara gembira atas pencapaiannya dan sedikit kecewa karena gagal meraih podium.
"Dari P20 ke P5, saya senang dengan balapan ini. Namun, saya juga merasa seperti ada sesuatu yang hilang," kata Veda dalam keterangan resmi Honda Team Asia.
"Karena sejak seri Mugello, saya selalu bertarung di kelompok depan dan hari ini kami sangat dekat dengan podium," tambahnya.
Bukan Pekan Mudah
Diakui Veda, seri kesembilan Moto3 2026 tidak berjalan mulus untuknya. Dari hari pertama dalam sesi latihan bebas hingga kualifikasi, pembalap asal Gunungkidul ini mengaku terus berjuang keras mencari performa terbaiknya di atas motor.
Tapi Veda menolak menyerah. Ia terus berjuang dan menjadikan rentetan pengalaman pahit sebagai bahan evaluasi. Puncaknya saat balapan utama, di mana dia hanya fokus untuk memacu motornya secepat mungkin demi bisa mengejar rombongan pembalap di depan.
"Jumat dan Sabtu tidak mudah, tetapi saya belajar banyak dan mengambil pelajaran penting," tutur Veda Ega
"Start dari P20, satu-satunya fokus saya adalah menekan dan mencapai grup depan secepat mungkin. Saya tidak terlalu memikirkan ban. Saya hanya ingin menangkap grup itu dan bertarung," lanjutnya.
Evaluasi Strategi di Lap Terakhir
Ketika berhasil merangsek dan bergabung dengan rombongan terdepan, kepercayaan diri Veda Ega langsung berlipat ganda. Kecepatan motornya mampu mengimbangi para pembalap papan atas.
Di sisi lain, Veda menyadari minimnya jam terbang di kelas dunia membuatnya kalah cerdik dari para pembalap senior yang lebih kaya pengalaman dalam menentukan strategi di tikungan-tikungan akhir.
"Ketika saya mencapai mereka, saya merasa baik dan saya bisa mengikuti kecepatan mereka. Saya memiliki kepercayaan diri dan saya tahu saya memiliki kecepatan," katanya.
"Namun, untuk lap terakhir, saya masih perlu berkembang. Banyak pembalap memiliki pengalaman lebih dari saya dan tahu lebih baik bagaimana mengelola momen-momen akhir itu," pungkas Veda.