Liputan6.com, Jakarta - Tugas memastikan bola pertandingan tidak pernah "mati" menjadi krusial di Piala Dunia 2026. Pasalnya, adidas Trionda adalah bola pintar berteknologi connected yang mengirimkan data secara real-time. Informasi ini membantu pengambilan keputusan di lapangan, dari situasi offside hingga momen gol yang diperdebatkan.
Sejauh ini belum ada insiden di mana wasit harus menghentikan laga untuk memeriksa sisa daya bola. Ada lapisan tambahan pada Trionda yang menampilkan status baterai di pusat kontrol, sehingga pemantauan dilakukan dari balik layar tanpa mengganggu jalannya pertandingan.
Advertisement
Dalam masa uji coba, adidas menekankan skenario kehabisan daya tidak pernah terjadi.
Daya, Pengisian, dan Kontrol Lapangan
Untuk setiap laga Piala Dunia 2026, disiapkan setidaknya selusin bola. Layaknya perangkat elektronik, ketika baterai Trionda benar-benar habis, pengisian penuh memerlukan 2 jam 30 menit. Setelah terisi, daya bisa bertahan hingga enam jam.
Ketahanan operasional itu dapat melampaui durasi standar karena Trionda memiliki mode sleep saat tidak digunakan. Skema ini membantu menghemat konsumsi energi di momen-momen bola berada di luar permainan.
adidas menyatakan standar awal pengisian dan pengelolaan daya sudah dirancang sesuai kebutuhan pertandingan. "Kami mengerti durasi maksimum pertandingan, dan kondisi cuaca di semua tempat, jadi kami memiliki standar yang harus dicapai pada titik awalnya," kata Wakil Presiden Performa dan Operasional adidas Tor Southard dilansir ESPN.
Data Trionda Mengubah Putusan di Laga Swedia–Tunisia
Pemanfaatan data Trionda sudah berdampak langsung pada keputusan penting. Gol Swedia ke gawang Tunisia sempat dianulir karena offside. Namun rekaman data menunjukkan adanya sentuhan tambahan dari Aleksander Isak, sehingga gol yang dicetak Mattias Svanberg kemudian disahkan.
Akurasi deteksi sentuhan itu didukung penempatan sensor yang berbeda dari kebiasaan. Alih-alih disimpan di bagian dalam inti bola, chip pada Trionda diletakkan di empat panel sisi. Penataan ini memungkinkan sistem melacak momen kontak bola secara presisi.
Sebelum dipakai, desain tersebut melewati validasi intensif untuk menjaga karakteristik permainan tetap netral. "Kami melakukan lebih dari 300 uji laboratorium dengan chip untuk memastikan keseimbangan, rotasi, dan putaran tetap konsisten, baik dengan chip maupun tanpa chip," tandas Southard.
Dari Jabulani ke Trionda
adidas sempat menuai kritik pada Piala Dunia 2010 melalui Jabulani, yang dinilai bergerak liar ketika ditendang. Pada edisi 2026 ini, belum ada keluhan resmi yang dialamatkan kepada Trionda.
Perbedaan tersebut tidak lepas dari lompatan pengembangan teknologi selama beberapa tahun terakhir, termasuk pada aspek sensor, material, dan proses pengujian yang lebih ketat. "Seperti teknologi pada umumnya, perkembangan sangat cepat. Bisa dibayangkan banyak yang berkembang dalam empat tahun terakhir," tandas Southard.