Transformasi Maroko yang Tidak Pernah Selesai

Maroko mencapai babak gugur pada Piala Dunia 2022 dan 2026, setelah sebelumnya hanya menang dua kali dalam lima partisipasi awal di pesta bola tersebut.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 29 Juni 2026, 09:30 WIB
Penjaga gawang Maroko, Yassine Bounou (1), meninju bola menjauh dari pemain Brasil, Gabriel Magalhaes (3), saat pemain Maroko, Ayyoub Bouaddi (6), Chadi Riad (18) dan Issa Diop, ikut bermain selama pertandingan Grup C Piala Dunia 2026 di East Rutherford, N.J., dekat New York, Minggu, 14 Juni 2026. (AP Photo/Matt Slocum)

Liputan6.com, Jakarta - Maroko memastikan diri lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah tampil apik pada partai terakhir melawan Haiti di Atlanta Stadium, Kamis (25/6/2026) waktu setempat. The Lion Atlas mencetak empat gol yang meningkatkan kepercayaan diri untuk pertandingan selanjutnya.

Lewat pencapaian tersebut, sang nakhoda Mohamed Ouahbi menyatakan anak asuhnya "berada di level berbeda", yang turut diamini oleh kiper Yassine Bounou dan bek Chadi Riad.

Lonjakan performa Maroko memang tidak main-main. Sebelumnya, negara di Afrika Utara ini hanya menang dua kali pada lima partisipasi awal di Piala Dunia. Kini mereka langganan sabet kemenangan.

Bounou menjadi saksi keberhasilan Maroko tahun ke tahun. Bagian skuad yang cuma petik satu poin di 2018, dia membawa tanah kelahiran menjadi semifinalis pada 2022. Mereka kini sudah mencapai 32 besar edisi 2026 dan berpotensi melangkah lebih jauh.

"Ini hal yang sangat istimewa dan terpenting, sangat menggembirakan," kata Bounou, dikutip situs resmi FIFA.

"Saya pikir sebagai tim, kami semakin banyak berkembang, meski itu tidak selalu terlihat dalam hasil, karena kemenangan bergantung pada banyak hal. Semoga keberuntungan berpihak pada kami dan bisa melangkah jauh."

 

Banyaknya Pemain Gen-Z

Pemain Timnas Maroko merayakan gol yang dicetak Ismael Saibari, setelah mencetak gol ke gawang Skotlandia di Boston Stadium, Foxborough, Sabtu (20/6/2026) pagi WIB. (AP Photo/Martin Meissner)

Regenerasi jadi alasan keberhasilan Maroko. Sebanyak 14 dari 26 anggota skuad kali ini lahir mulai tahun 2000. Mereka dibimbing para senior seperti Bounou, Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, hingga kapten Achraf Hakimi. Para generasi baru itu bakal jadi andalan pada edisi mendatang tahun 2030, atau bahkan 2034.

Sentuhan tangan dingin Ouahbi juga memainkan peran. Setelah membantu Maroko menjuarai Piala Dunia U-20 di Chile 2025, dia tidak ragu mempromosikan talenta muda ke tim utama.

Salah satunya adalah Riad yang debut di Piala Dunia pada usia 23 tahun. Dia berharap tim saat ini bisa melanjutkan kisah sukses skuad sebelumnya pada turnamen di Qatar.

“Kami melakukan beberapa hal hebat dan semua bekerja sama ke arah yang sama. Saya sangat senang dan bangga dengan tim ini,” katanya.

“Mereka melakukan pekerjaan yang luar biasa di tahun 2022 dan itu berarti kami memiliki panutan yang fantastis. Mereka adalah pemain yang kami kagumi. Kami ingin seperti mereka. Kami adalah tim muda, tetapi tim yang sangat ambisius,” tandasnya. (Reporter: Aulia Rafa Xena)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya