Liputan6.com, Jakarta - Federasi Sepak Bola Kolombia (FCF) mengeluarkan pernyataan tegas mengenai ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada Jaminton Campaz, pemain tim nasional, beserta keluarganya setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Ancaman ini muncul setelah Campaz gagal mencetak gol yang dapat membawa timnya meraih kemenangan pada babak tambahan waktu. Hal tersebut berujung pada kekalahan Kolombia melalui adu penalti melawan Swiss di fase 16 besar.
Advertisement
Menurut laporan dari Portal One Football melalui DPA, penyerang berusia 25 tahun itu memilih untuk tidak kembali ke Kolombia untuk sementara waktu demi menjaga keselamatan dirinya. FCF menekankan bahwa tidak seharusnya ada atlet atau anggota keluarga mereka yang menjadi target intimidasi hanya karena berjuang untuk negaranya dalam kompetisi olahraga.
"Tidak ada atlet, atau anggota lingkaran dalam mereka, yang boleh menjadi sasaran intimidasi karena mewakili negara mereka di arena olahraga," tulis FCF.
"Sepak bola harus menjadi ruang untuk persatuan, rasa hormat, dan harapan, bukan tempat untuk kebencian, intimidasi, atau kekerasan."
Kejadian Tragis Escobar
Pengalaman Campaz mengingatkan masyarakat Kolombia akan tragedi yang dialami oleh Andres Escobar. Pada Piala Dunia 1994 yang diadakan di Amerika Serikat, bek timnas Kolombia tersebut secara tidak sengaja mencetak gol bunuh diri dalam laga melawan tuan rumah, yang berakhir dengan skor 1-2.
Beberapa hari setelah tim Kolombia tersingkir dan kembali ke tanah air, Escobar tragisnya dibunuh di Medellín. Insiden ini pada waktu itu menimbulkan keprihatinan yang mendalam di seluruh dunia.
Federasi Sepak Bola Kolombia (FCF) pun telah meminta kepada kantor kejaksaan agung untuk meningkatkan upaya penyelidikan. Tujuannya adalah untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam ancaman terhadap Campaz.
Pesan dari Campaz
Campaz, yang saat ini bermain untuk klub Argentina, Rosario Central, juga menyampaikan pesannya melalui platform media sosial.
"Sepak bola juga menghadirkan momen-momen sulit. Kolombiaku, jangan pernah kehilangan rasa hormat. Kita boleh memiliki pendapat yang berbeda atau merasakan frustrasi dan kesedihan, tetapi tidak ada gairah yang membenarkan kebencian atau membuat seseorang hidup dalam ketakutan," ungkap Campaz.
Melalui pernyataan tersebut, Campaz mengajak semua pihak untuk tetap menghargai satu sama lain meskipun dalam situasi yang sulit. Ia percaya bahwa olahraga seharusnya menyatukan, bukan memecah belah, dan menekankan bahwa perbedaan pendapat harus dihadapi dengan sikap yang positif.
Sumber: Aning Jati (Bola.com)