FIFA Tegaskan Tak Ada Match Fixing di Piala Dunia 2026

FIFA mempublikasikan hasil pemantauan integritas Piala Dunia 2026. Tidak ada pola taruhan mencurigakan. Dua perkara terkait Argentina tetap diselidiki.

oleh Aning JatiDiterbitkan 23 Juli 2026, 20:30 WIB
Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyaksikan Spanyol merayakan kemenangan setelah mengalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey pada 20 Juli 2026 di East Rutherford, New Jersey. (Andrew Harnik/Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - FIFA menepis isu pengaturan pertandingan di Piala Dunia 2026 dan merilis hasil pemantauan integritas sepanjang turnamen. Otoritas sepak bola dunia itu menyatakan temuan resmi telah dikumpulkan dari sistem pemantauan yang melibatkan sejumlah lembaga internasional.

Turnamen edisi perdana dengan 48 tim ini menuntaskan 104 laga. Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina pada partai final di Stadion MetLife, Senin.

Di tengah jalannya kompetisi, sejumlah keputusan wasit sempat memicu kontroversi. Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) meminta FIFA mencoret wasit beserta seluruh perangkat pertandingan yang memimpin kekalahan 2-3 Mesir dari Argentina di babak 16 besar.

Pelatih Mesir Hossam Hassan juga melakukan gestur berbentuk huruf "X" di tepi lapangan dan menuding FIFA memihak Lionel Messi. Akun Instagram Cristiano Ronaldo bahkan sempat memberikan tanda suka pada unggahan yang menuduh FIFA melakukan korupsi.

Temuan Satuan Tugas Integritas FIFA

Presiden FIFA, Gianni Infantino menunjukkan kartu kuning kepada Presiden AS Donald Trump selama pertemuan di Oval Office Gedung Putih, Selasa (28/8). Presiden FIFA bertemu Trump untuk membahas kesiapan Piala Dunia 2026. (AFP/Mandel Ngan)

FIFA menyampaikan, Satuan Tugas Integritas FIFA (FIFA Integrity Task Force) tidak menemukan pola taruhan mencurigakan maupun indikasi manipulasi pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026. Pemantauan dilakukan secara real time atas pasar taruhan dan jalannya pertandingan oleh tim ahli yang disiagakan khusus untuk turnamen ini.

"Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan dianalisis sepanjang kompetisi, Satuan Tugas tidak mengidentifikasi adanya aktivitas taruhan yang mencurigakan maupun indikasi manipulasi pertandingan pada pertandingan mana pun," tulis FIFA dalam pernyataan resminya.

Tim tersebut melibatkan perwakilan badan-badan sepak bola, FBI, INTERPOL, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), Council of Europe, International Betting Integrity Association (IBIA), serta sejumlah pihak lainnya. Seluruh laporan pemantauan taruhan dan data pendukung dihimpun secara terpusat, dianalisis, lalu dibagikan kepada para anggota sesuai prosedur operasional yang berlaku.

Manajer Senior Integritas FIFA, Liam Rich, menyebut kemitraan lintas-lembaga itu memberi kerangka yang kuat untuk berbagi informasi dan menilai potensi persoalan integritas. Model serupa akan kembali diterapkan pada turnamen-turnamen FIFA berikutnya, termasuk Piala Dunia Wanita tahun depan.

Kontroversi usai Laga Mesir vs Argentina

Protes EFA mencuat usai Mesir kalah 2-3 dari Argentina di fase 16 besar. Otoritas sepak bola Mesir menilai terjadi sejumlah kesalahan dalam pertandingan tersebut dan mendesak FIFA mengambil tindakan terhadap wasit beserta seluruh perangkat yang bertugas.

Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, merespons dengan mengecam tudingan yang dinilai tidak berdasar dan menyasar integritas para ofisial pertandingan. Sikap itu disampaikan di tengah sorotan luas atas keputusan-keputusan wasit pada sejumlah laga.

Hossam Hassan ikut menyulut polemik lewat gestur huruf "X" di tepi lapangan. Ia kemudian menuding FIFA memihak Lionel Messi. "Mereka ingin Messi tetap bertahan di turnamen," ujar Hassan.

Di sisi lain, isu pengaturan pertandingan kembali menguat di media sosial setelah akun Instagram Cristiano Ronaldo memberikan tanda suka pada unggahan yang menuduh FIFA melakukan korupsi. FIFA merespons perkembangan tersebut dengan mempublikasikan hasil pemantauan integritas yang terverifikasi oleh Satuan Tugas.

Dua Kasus Argentina Masih Ditelaah

Terlepas dari nihilnya temuan manipulasi pertandingan, FIFA memastikan dua penyelidikan disiplin pascaturnamen yang melibatkan Timnas Argentina tetap berjalan. Penyelidikan pertama berkaitan dengan spanduk yang dibentangkan sejumlah pemain seusai kemenangan atas Inggris di semifinal dengan tulisan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina."

Selain itu, FIFA juga menyelidiki insiden usai final melawan Spanyol. Dalam kericuhan tersebut, Leandro Paredes, Nahuel Molina, dan asisten pelatih Roberto Ayala diduga melakukan tindakan yang mengarah pada penyerangan terhadap pemain lawan.

Komite Disiplin FIFA telah menunjuk seorang penyelidik disiplin dan etik untuk menganalisis kedua perkara tersebut. Proses ini akan menentukan apakah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 13 Kode Disiplin FIFA mengenai aturan dasar perilaku yang pantas serta tindakan yang dapat mencemarkan nama baik sepak bola maupun FIFA.

Bila terbukti bersalah, sanksi yang dapat dijatuhkan mencakup denda hingga larangan bertanding, bergantung pada hasil akhir proses disiplin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya