Liputan6.com, Jakarta - Barcelona ternyata sempat memiliki kesempatan untuk mendatangkan Carlos Espi pada bursa transfer musim panas 2026. Namun, Blaugrana memilih tidak mengambil peluang tersebut meski sang striker tampil menjanjikan bersama Levante pada musim 2025/2026.
Espi mencetak 13 gol dalam 27 penampilan sepanjang musim lalu. Catatan tersebut membuat penyerang berusia 21 tahun itu masuk radar sejumlah klub, termasuk Barcelona yang saat itu membutuhkan tambahan opsi di lini depan setelah kepergian Robert Lewandowski.
Advertisement
Namun, ketertarikan Barcelona tidak berujung pada transfer.
Menurut jurnalis Sique Rodriguez, Barcelona menilai Espi sebagai pemain yang bagus. Persoalannya bukan kemampuan sang striker, melainkan harga dan peran yang diproyeksikan untuknya.
"Barcelona menganggapnya pemain yang bagus. Mereka menolaknya, antara lain karena tidak bersedia membayar25 juta euro untuk pemain yang tidak akan menjadi starter atau bermain banyak menit. Selain itu, profil pemain yang mereka cari memang berbeda," ujar Rodriguez.
Barcelona Memilih Opsi yang Lebih Murah
Keputusan tersebut menjadi semakin masuk akal jika melihat kebutuhan Barcelona pada saat itu. Kepergian Lewandowski memang meninggalkan kebutuhan akan tambahan penyerang tengah. Namun, klub tidak ingin menginvestasikan dana besar untuk pemain yang belum memiliki jaminan tempat di tim utama.
Barcelona akhirnya mengambil pendekatan berbeda. Mereka mempermanenkan Hamza Abdelkarim dari Al Ahly dengan biaya sekitar 1,5 juta euro. Situasi Abdelkarim juga berbeda dari Espi. Penyerang asal Mesir itu masih berusia 18 tahun dan lebih dipandang sebagai proyek jangka panjang. Barcelona berharap ia bisa berkembang secara bertahap sebelum mengambil peran yang lebih besar di tim senior.
Dengan demikian, klub tidak perlu mengeluarkan dana sebesar 25 juta euro untuk pemain yang belum tentu mendapatkan banyak kesempatan bermain.
Espi Lebih Cocok Gabung Real Madrid
Menariknya, karakteristik Espi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana Barcelona dimanfaatkan Real Madrid.
Setelah Barcelona mundur, Real Madrid bergerak untuk merekrut sang striker. Espi kemudian mendapat peran sebagai pemain pelapis di bawah arahan Jose Mourinho.
Espi memiliki karakter sebagai penyerang tradisional. Ia punya kekuatan fisik untuk berduel dengan bek tengah sekaligus menjadi titik tumpu serangan ketika tim membutuhkan kehadiran lebih banyak pemain di area penalti.
Peran tersebut sudah menghasilkan dampak.
Mantan striker Levante itu mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir ketika menghadapi Espanyol. Ia kembali menjadi penentu saat Real Madrid menghadapi Elche, mencetak gol pada masa tambahan waktu untuk membawa timnya menang 3-2.
Dua gol tersebut membuat Espi mulai menunjukkan bahwa ia bisa menjadi senjata penting dari bangku cadangan.
Mourinho juga telah memberikan apresiasi terhadap kontribusinya, meski Kylian Mbappe tetap menjadi pilihan utama di posisi tersebut.
Bagi Espi, peran sebagai pemain pelapis tampaknya bukan masalah. Ia tidak harus tampil sejak menit pertama setiap pekan untuk memberikan pengaruh. Ketika Real Madrid membutuhkan penyerang dengan kehadiran fisik yang lebih kuat di kotak penalti, Espi bisa menjadi opsi yang masuk akal.