UEA Ancam Cabut dari Britania Raya Dampak Sanksi Manchester City

Keputusan hukuman yang menanti atas pelanggaran Manchester City menimbulkan ketegangan antara UEA dan Britania Raya.

oleh Deniz AkbarDiterbitkan 01 Oktober 2026, 06:30 WIB
Pemilik Manchester City, Sheikh Mansour. (AFP/Andrew Yates)

Liputan6.com, Jakarta - Grup konsorsium Manchester City yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) mengancam Britania Raya apabila klub tersebut dijatuhi sanksi berat. Sebelumnya, The Citizens sudah resmi dinyatakan bersalah oleh Komite Liga Inggris atas pemalsuan dokumen finansial pada periode 2009-2018.

Intimidasi ini dilaporkan sudah dilancarkan jauh sebelum putusan diresmikan pada Selasa (29/9). The Citizens sudah diberitahu lebih awal bahwa mereka resmi dinyatakan bersalah setelah melewati proses investigasi Premier League yang memakan waktu 3,5 tahun.

Dalam rentang waktu ketika mereka pada akhirnya dinyatakan bersalah, tim yang bermarkas di Etihad Stadium tersebut menggelontorkan lebih dari 700 juta euro. Pada periode yang sama, Manchester City juga berhasil mengamankan total 6 gelar bergengsi, termasuk 2 trofi Liga Inggris.

Melihat dampak yang terjadi pada klub, sejumlah pebisnis UEA di Britania Raya mendesak pemerintah Inggris untuk mempertimbangkan kembali sanksi yang akan diberikan. Terlebih lagi, pemilik The Citizens, Sheikh Mansour telah menginvestasikan dana yang tak sedikit ke klub.

Telepon PM Inggris

Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan kiri) dan pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan (dua dari kiri), menonton pertandingan final Liga Champions antara Inter Milan kontra Manchester City di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, pada 10 Juni, 2023. (Franck Fife/ AFP)

Presiden klub yang memiliki nama lengkap Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan disebut telah melakukan panggilan suara dengan Perdana Menteri Britania Raya, Andy Burnham. Percakapan yang terjadi diyakini merupakan ancaman bagi pemerintahan Burnham terkait kasus City.

Bersama saudaranya yang juga merupakan Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al-Nahyan, Sheikh Mansour akan mempertimbangkan ulang seluruh investasinya di Britania Raya yang berasal dari uang UEA dan menolak sejumlah kerja sama di masa mendatang.

Jadi Kerugian Besar UK

Logo Manchester City di Stadion Etihad. (Paul ELLIS / AFP)

Profesor bisnis olahraga Simon Chadwick melihat adanya potensi kerugian bagi Britania Raya apabila hubungan bilateral dengan negara seperti UEA merenggang. Negara timur tengah tersebut juga merupakan salah satu investor terbesar di tanah Britania dalam beberapa tahun terakhir.

"Investasi UEA di Britania Raya mencapai 30 miliar pounds," sebut Simon Chadwick. "Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, UEA merupakan negara terbesar ketiga yang menerima lisensi ekspor senjata Inggris secara global sejak tahun 2024," lanjutnya.

Lebih Rumit dari Sekadar Sepak Bola

Selebrasi pelatih Manchester City, Pep Guardiola bersama sang pemilik klub, Khaldoon al-Mubarak dalam perayaan gelar Liga Inggris 2022/2023 setelah laga pekan terakhir menghadapi Chelsea di Etihad Stadium, Manchester(21/5/2023). (AFP/Oli Scarff)

Dengan banyaknya polemik yang akan didapatkan Britania Raya dari permasalahan The Citizens, Chadwick menyinggung bahwa masalah ini lebih rumit dari sekadar permainan sepak bola.

"Para fans dan media mungkin hanya melihat ini semata-mata hanya sebagai pelanggaran aturan sepak bola. Namun, masalah City ini merupakan sesuatu yang sangat sensitif dan kompleks, jauh dari sekadar hanya menendang bola," jelas Simon Chadwick.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya