Liputan6.com, Jakarta - Fenomena kerusuhan suporter kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Aksi turun ke lapangan, penyalaan flare, hingga perusakan fasilitas stadion masih terus berulang dalam beberapa musim terakhir.
Akibatnya, klub harus menerima hukuman berat dari PSSI melalui Komite Disiplin (Komdis). Namun pertanyaannya, apakah sanksi tersebut benar-benar efektif menghentikan aksi oknum suporter?
Advertisement
Pengamat sepak bola Indonesia, Doni Setiabudi, menilai hukuman yang dijatuhkan sebenarnya sudah cukup berat dan sangat merugikan klub. Sayangnya, perilaku suporter yang melanggar aturan masih terus terjadi.
“Kalau saya berkaca dari beberapa pertandingan terakhir yang memang sering terjadi kerusuhan atau suporter masuk ke lapangan, sebenarnya hukuman itu cukup terasa,” ujar Doni.
Dalam beberapa musim terakhir, sejumlah klub harus menerima dampak besar akibat kerusuhan suporter. Salah satunya Persela Lamongan yang sempat mendapat hukuman larangan bermain tanpa penonton selama satu musim.
Sanksi tersebut membuat klub kehilangan pemasukan dari penjualan tiket dan berdampak terhadap kondisi finansial tim. Bahkan, beberapa investor disebut memilih mundur akibat situasi tersebut.
Hal serupa juga dialami Persipura Jayapura. Klub berjuluk Mutiara Hitam itu juga harus menjalani hukuman bermain tanpa penonton selama satu musim.
Merugikan Klub
Situasi itu membuat biaya operasional klub membengkak, terutama untuk kebutuhan akomodasi dan transportasi tim, sementara pemasukan dari tiket pertandingan praktis hilang.
Belum lama ini, kasus serupa kembali terjadi dalam laga PSM Makassar kontra Persib Bandung. Ulah oknum suporter yang masuk ke lapangan membuat klub kembali terancam sanksi tambahan.
Menurut Doni, hukuman yang diterapkan sejatinya sudah cukup berat. Ia mencontohkan Persib Bandung yang pernah mendapat denda dari AFC hingga Rp3,5 miliar serta larangan didampingi penonton dalam beberapa pertandingan.
“Itu jelas berat dan sangat merugikan klub,” katanya.
Budaya Suporter
Pria yang akrab disapa Kang Jalu itu menilai persoalan utama bukan hanya soal regulasi, melainkan budaya suporter Indonesia yang dinilai belum siap menerima kekalahan.
“Dalam sepak bola cuma ada tiga hasil, menang, kalah, atau seri. Tapi budaya menerima kekalahan suporter Indonesia masih rendah,” ujarnya.
Karena itu, edukasi kepada suporter dinilai menjadi langkah penting agar atmosfer pertandingan lebih sehat dan aman.
Doni menegaskan, aksi kerusuhan justru bertolak belakang dengan semangat mendukung klub.
“Walaupun mereka bilang cinta klub, tapi kalau tindakannya merugikan klub, ya sebenarnya kita tidak butuh suporter seperti itu,” tegasnya.
Teknologi Pengenalan Wajah
Di sisi lain, Doni menilai hukuman larangan suporter hadir di stadion mulai kehilangan efektivitas. Ia mendorong penggunaan teknologi face recognition seperti yang diterapkan di sejumlah liga luar negeri.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi pelaku kerusuhan sehingga tidak bisa kembali masuk stadion.
“Kalau memang mau ada efek jera, pelaku kerusuhan harus bertanggung jawab langsung. Jangan cuma klub yang dihukum. Kalau perlu dikaitkan juga dengan pidana,” katanya.
Selain itu, klub juga dinilai harus lebih aktif membangun komunikasi dengan komunitas suporter melalui forum rutin atau sarasehan.
Tujuannya agar suporter memahami dampak finansial yang harus ditanggung klub akibat sanksi dan denda.
“Kalau stadion aman dan sponsor masuk lebih banyak, efeknya tiket bisa lebih murah dan fasilitas lebih baik. Jadi suporter juga harus sadar bahwa menjaga keamanan stadion itu menguntungkan mereka sendiri,” ujar Doni.
Suporter Harus Berubah
Senada dengan Doni, CEO Deltras FC, Amir Burhanuddin, menilai akar persoalan tetap berada pada perilaku suporter yang harus berubah.
“Perilaku suporter yang harus berubah, jangan semaunya sendiri. Sepak bola itu harus siap menang dan kalah,” ujarnya.
Menurut Amir, keputusan Komdis PSSI sebenarnya sudah sesuai regulasi yang berlaku. Namun klub tetap menjadi pihak yang paling dirugikan akibat ulah oknum suporter.
“Putusan Komdis PSSI sebenarnya sudah sesuai ketentuan, meski tetap klub yang sejatinya dirugikan,” katanya.
Ia juga mengakui edukasi kepada suporter sebenarnya sudah sering dilakukan, tetapi perubahan perilaku belum sepenuhnya terlihat.
“Mau formula apa pun kalau perilaku suporter kita tidak berubah ya susah,” ungkapnya.