Liputan6.com, Jakarta - Era baru kini dimulai di Anfield seiring dengan penunjukan Andoni Iraola sebagai juru taktik anyar Liverpool. Langkah krusial ini langsung memantik rasa optimisme yang masif di kalangan pendukung, walaupun beban ekspektasi yang dipikul sang pelatih tentu sangat besar.
Langkah penyegaran ini diambil manajemen The Reds setelah mereka menyepakati pemutusan kerja sama dengan Arne Slot. Juru taktik berkebangsaan Belanda tersebut sebenarnya sempat mempersembahkan trofi Premier League pada musim pertamanya menjabat.
Advertisement
Akan tetapi, periode kompetisi berikutnya dilewati dengan performa yang jauh lebih sulit. Liverpool terlempar ke posisi kelima di klasemen akhir, walau mereka tetap mengamankan zona Liga Champions. Situasi kian memanas lantaran investasi besar klub yang menyentuh angka £446 juta di jendela transfer dinilai belum sebanding dengan hasil lapangan.
Iraola sendiri mendarat di Merseyside dengan status bebas transfer lantaran masa baktinya bersama Bournemouth telah habis. Tugas berat kini menanti dirinya, terutama dalam mendongkrak kembali level konsistensi permainan Liverpool yang sempat merosot dalam dua tahun belakangan.
Gaya Main Agresif untuk Mengembalikan Gairah Anfield
Kedatangan Iraola diproyeksikan bakal merombak fondasi taktik Liverpool secara drastis. Strategi warisan Slot yang menitikberatkan pada dominasi penguasaan bola belakangan ini dinilai memicu kejenuhan, baik bagi para penggawa tim maupun publik Anfield.
Secara kontras, Iraola mempunyai reputasi lewat skema sepak bola yang vertikal, mengandalkan intensitas tinggi, serta determinasi penuh. Rekam jejaknya di Bournemouth membuktikan bagaimana anak asuhnya selalu menerapkan garis pers yang tinggi serta ritme permainan yang berjalan cepat.
“Ketika sebuah basis suporter menjadi tidak puas dengan manajer dan gaya bermainnya, lalu mulai berbalik menentangnya, Anda hanya menunda hal yang tak terhindarkan. Saya percaya Liverpool kini berada dalam posisi yang lebih baik, dan itu bukan sepenuhnya karena Slot,” ujar mantan gelandang Liverpool, Danny Murphy.
“Saya cukup antusias karena setelah melihat Bournemouth bermain, tidak ada alasan untuk berpikir dia tidak akan mencoba bermain dengan cara yang sama: berani, agresif, menekan dengan energi tinggi, dan bermain menyerang,” lanjutnya.
Rumitnya Persaingan Berburu Tanda Tangan Iraola
Sebelum melabuhkan pilihan ke Liverpool, sosok Iraola merupakan salah satu komoditas paling diburu dalam bursa manajer di Eropa. Sejumlah tim raksasa sempat berupaya keras untuk mengamankan tanda tangan sang pelatih.
Chelsea muncul sebagai salah satu peminat paling agresif dan sempat menempatkan nama Iraola di daftar teratas, sebelum manajemen Stamford Bridge beralih ke Xabi Alonso. Pada periode yang sama, pergerakan Iraola juga terus dipantau oleh beberapa tim mapan lainnya.
Klub seperti Crystal Palace, Bayer Leverkusen, hingga AC Milan dikabarkan sempat melakukan penjajakan serta diskusi awal. Kendati demikian, momentum tersebut tidak pernah berlanjut ke kesepakatan konkret hingga akhirnya Liverpool bergerak senyap dan mengamankan jasanya.
Pada fase krusial tersebut, Iraola memantapkan pilihan untuk menakhodai Anfield. Kepindahan ini sekaligus menyudahi segala rumor serta spekulasi berliku terkait kelanjutan karier kepelatihannya di benua biru.