IBL dan I.League Dorong Kompetisi Olahraga Jadi Mesin Ekonomi Baru Indonesia

IBL dan I.League menjadi pembiacara pada Talk Show Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026.

OlehThomas
Diterbitkan 14 September 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kompetisi olahraga di Indonesia mulai dipandang bukan sekadar arena mengejar prestasi, tetapi juga sebagai bagian penting dari industri dan penggerak ekonomi. Potensi tersebut dinilai semakin besar jika kompetisi dikelola dengan membangun ekosistem yang melibatkan berbagai sektor.

Hal itu mengemuka dalam Talk Show Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 yang digelar di Cendrawasih Hall, JICC Senayan, Jakarta, Minggu (13/9/2026). Talk show dihadiri Teddy Tjahjono (CEO Indonesia Women's League), Asep Saputra (Direktur Kompetisi I League), Junas Miradiarsyah (direktur utama IBL), dan Andri Paranoan (CEO Indonesian Padel League).

Asep Saputra mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri olahraga. Jumlah penduduk yang besar dan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga menjadi peluang yang dapat dikembangkan secara bersama-sama.

“Big passion, tapi juga ada bigger opportunity. Ada hal-hal yang ingin kita gali dan itu membutuhkan kolaborasi semua pihak,” ujar Asep.

Berdasarkan data yang dikutipnya dari Kemenpora, estimasi belanja olahraga di Indonesia mencapai Rp39 triliun. Namun, kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional disebut baru berada di kisaran 0,19 persen pada 2024.

Menurut Asep, angka tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat besar untuk mengembangkan olahraga sebagai industri.

Ia menilai dampak ekonomi sebuah pertandingan tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Rangkaian aktivitas sebelum hingga setelah pertandingan dapat memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor, seperti transportasi, perjalanan, akomodasi, kuliner, hingga aktivitas ekonomi masyarakat di daerah.

“Ekonomi impact yang baik itu tidak bisa tercipta otomatis, kita harus desain,” katanya.

Asep mencontohkan pertandingan sepak bola yang secara langsung hanya berlangsung selama 90 menit. Namun, jika dikelola dengan baik, aktivitas di sekitar pertandingan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar aktivitas di dalam lapangan.

Karena itu, I League ingin memperluas peran sebagai penyelenggara kompetisi. Transformasi diarahkan agar operator liga juga berperan sebagai pembangun ekosistem olahraga.

“Better competition, bigger audience, greater value,” imbuhnya.

Format Kompetisi Berpengaruh pada Jumlah Penonton

Pandangan serupa juga terlihat dalam perkembangan Indonesian Basketball League (IBL). Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah menjelaskan bagaimana perubahan format kompetisi memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan jumlah penonton.

Junas mengatakan perjalanan liga basket profesional Indonesia telah dimulai sejak 2003. Pada periode awal, kompetisi menggunakan format series, di mana seluruh tim berkumpul dan bertanding di satu kota dalam periode tertentu.

Namun, sejak 2023, IBL melakukan perubahan besar dengan menerapkan sistem home and away. Klub kini memiliki kesempatan bermain di kandang masing-masing dan mendekatkan kompetisi kepada basis pendukungnya.

Perubahan tersebut disebut memberikan dampak signifikan terhadap jumlah penonton.

“Penonton naik 400 persen dari format series ke format home and away. Ini merupakan indikator bahwa insyaallah kita sudah mengarah ke yang lebih tepat,” ujar Junas pada Talk Show Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026, Cendrawasih Hall, JICC Senayan, Jakarta, Minggu (13/9).

Perubahan format juga membuat skala kompetisi IBL berkembang jauh lebih besar. Jika sebelumnya seluruh tim bermain di satu kota selama tujuh hari dengan total 28 pertandingan, kini kompetisi dapat berlangsung hingga sekitar 150 pertandingan dalam periode lebih dari 150 hari.

Menurut Junas, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa membangun industri olahraga tidak cukup hanya dengan menghadirkan pertandingan. Kompetisi juga harus dikembangkan menjadi sebuah ekosistem yang melibatkan klub, penonton, sponsor, komunitas, mitra bisnis, hingga berbagai produk turunan.

IBL pun mengembangkan sejumlah kerja sama dan produk pendukung, termasuk IBL TV serta program yang menyasar generasi muda.

Potensi Besar Basket Indonesia

Junas menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan olahraga basket. Berdasarkan data yang dipaparkannya, minat terhadap basket di kalangan anak muda Indonesia disebut berada di atas 80 persen.

“Ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan bersama-sama,” katanya.

Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting untuk memperbesar industri basket nasional. Tidak hanya dari sisi jumlah penonton, tetapi juga dari pengembangan klub, kompetisi, komunitas, sponsor, media, hingga intellectual property olahraga.

Ke depan, IBL menargetkan Indonesia mampu menjadi salah satu kekuatan basket di kawasan Asia Tenggara. Pengembangan liga dan berbagai elemen pendukungnya diharapkan mampu memperkuat prestasi sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.

Kolaborasi Jadi Kunci

Baik I League maupun IBL sama-sama melihat kolaborasi sebagai faktor penting dalam membangun industri olahraga nasional.

Asep menekankan bahwa pemerintah, sektor swasta, klub, komunitas, dan UMKM perlu berjalan bersama agar dampak ekonomi dari kompetisi olahraga dapat dirasakan lebih luas.

Dengan jumlah penduduk yang besar, basis penggemar olahraga yang kuat, serta semakin berkembangnya kompetisi profesional, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadikan olahraga sebagai industri bernilai tinggi.

Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dirancang menjadi ekosistem yang berkelanjutan. Dengan kompetisi yang lebih berkualitas, jangkauan audiens yang semakin besar, serta keterlibatan lebih banyak sektor ekonomi, pertandingan olahraga diharapkan tidak hanya menghasilkan kemenangan di lapangan, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi di luar lapangan.