Belanja Besar Tak Berbuah Manis, Investasi Gagal 5 Klub Liga Inggris

Planet Football merangkum lima klub Liga Inggris yang jor-joran di bursa transfer namun gagal memenuhi ekspektasi.

Diterbitkan 22 September 2026, 22:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tottenham Hotspur menjadi sorotan pada musim panas lalu setelah merombak skuad dari belakang hingga depan. Klub London Utara itu menggelontorkan 354,70 juta euro atau sekitar Rp 7,32 triliun untuk mendukung proyek Roberto De Zerbi. Belanja masif ini menunjukkan ambisi besar membangun ulang tim.

Perombakan dianggap krusial mengingat dalam dua musim terakhir Spurs finis di posisi ke-17 Premier League. Rekrutmen pun menyasar berbagai sektor: lini tengah, pertahanan, hingga sayap. Namun performa di liga belum sepadan dengan investasi.

Fenomena belanja besar yang tak sesuai ekspektasi bukan hal baru. Dilansir dari Planet Football, setidaknya ada lima klub Inggris yang pernah melakukan hal serupa—dengan Manchester United berada di antaranya.

5. Everton 2019/2020: Belanja Ramai, Ambisi Menyempit

Musim 2019/2020, Everton bergerak agresif di bursa transfer. The Toffees mendatangkan Moise Kean, Fabian Delph, Andre Gomes, dan Alex Iwobi dalam satu periode perekrutan.

Langkah itu sempat mengundang optimisme suporter. Tak lama berselang, Goodison Park kedatangan pelatih top: Carlo Ancelotti bergabung pada 2019 untuk memimpin proyek tersebut.

Namun pemborosan berujung pada ruang gerak finansial yang menipis. Dampaknya, target yang bisa dikejar menyempit—praktis berfokus menghindari degradasi alih-alih menembus papan atas.

4. West Ham 2024/2025: Era Baru Lopetegui Berujung Degradasi

Setelah memecat David Moyes, West Ham mengeluarkan 150 juta poundsterling (Rp 3,57 triliun) untuk menandai awal era Julen Lopetegui. Investasi ini dimaksudkan menjadi fondasi baru di London Stadium.

Deretan nama besar diboyong: Niclas Fullkrug, Aaron Wan-Bissaka, Maximilian Kilman, Crysensio Summerville, Guido Rodriguez, Carlos Soler, dan Jean-Clair Todibo. Di atas kertas, skuad terlihat lebih dalam dan kompetitif.

Kenyataannya, performa justru merosot. Lopetegui didepak pada Januari setelah hasil yang mengecewakan. Graham Potter kemudian dipercaya, tetapi masa jabatannya delapan bulan dinilai merugikan.

West Ham akhirnya terdegradasi di akhir musim. Hasil tersebut hadir tanpa banyak kejutan mengingat tren yang terus menurun sepanjang tahun.

3. Manchester United 2021/2022: Kepulangan Ronaldo, Taktik Berantakan

Manchester United memulai musim 2021/2022 bersama Ole Gunnar Solskjaer dengan amunisi baru: Jadon Sancho dan Raphael Varane. Pada Agustus, klub memulangkan Cristiano Ronaldo ke Old Trafford.

Kedatangan Ronaldo mengubah dinamika tim. Meski sang penyerang menutup musim dengan 18 gol, taktik Solskjaer justru tak lagi berjalan efektif.

Solskjaer dipecat pada November usai kekalahan 1-4 di markas Watford. Ralf Rangnick mengambil alih sebagai manajer interim dan menyatakan bahwa operasi jantung terbuka diperlukan pada skuad United.

Alih-alih bangkit, performa United kian terpuruk di liga pada periode tersebut. Musim berakhir jauh dari ekspektasi di tengah investasi besar dan perubahan di ruang ganti.

2. Liverpool 2025/2026: Juara Mendadak, Musim Berikutnya Jeblok

Arne Slot membawa kejutan dengan menjuarai Liga Inggris pada musim pertamanya di Anfield. Namun momentum itu tak berlanjut ke musim berikutnya.

Liverpool kemudian menggelontorkan 400 juta poundsterling (Rp 9,54 triliun) untuk memperkuat skuad. Deretan rekrutan termasuk Hugo Ekitike, Milos Kerkez, Jeremie Frimpong, Florian Wirtz, dan Alexander Isak.

Kendati bertabur talenta, Slot tak mampu memaksimalkan potensi para pemain baru. The Reds hanya finis di peringkat kelima klasemen.

Situasi itu diikuti perubahan di bangku pelatih. Slot digantikan oleh Andoni Iraola untuk mengarungi musim 2026/2027.

1. Southampton 2022/2023: Satu Kemenangan dari 12 Laga, Terperosok ke Dasar

Southampton sempat jor-joran pada 2022 dengan harapan memperbaiki performa. Namun awal musim berjalan berat: mereka hanya menang sekali dari 12 pertandingan.

Ralph Hasenhuttl meninggalkan posnya pada November. Penggantinya, Nathan Jones, gagal menghentikan tren negatif dan situasi kian memburuk.

Musim ditutup dengan posisi juru kunci dan 25 poin. Usai promosi cepat kembali ke Premier League, mereka kembali finis di dasar klasemen pada 2025.