Atasi Rute Neraka 1.034 KM, Juney Hanafi Jadi Orang Indonesia Pertama Juara Lintang Flores

Juney Hanafi, pesepeda ultra asal Malang, berhasil menyelesaikan rute neraka 1.034 KM guna menjadi orang Indonesia pertama juara Lintang Flores 2026.

OlehThomas
Diterbitkan 09 Mei 2026, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pesepeda ultra asal Malang, Juney Hanafi, berhasil mencetak sejarah gemilang dalam ajang balap sepeda internasional Lintang Flores 2026. Ia sukses menaklukkan rute ekstrem sepanjang 1.034 kilometer yang dijuluki "rute neraka". Juney pun menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar juara di kompetisi bergengsi ini. Kemenangan ini tidak hanya mengharumkan nama bangsa, tetapi juga mematahkan dominasi pesepeda mancanegara yang sebelumnya selalu menguasai podium.

Ajang Lintang Flores 2026 yang berlangsung dari 3 hingga 7 Mei 2026 ini dikenal sebagai salah satu balap sepeda ultra paling menantang di dunia. Dengan total elevasi pendakian mencapai 19.000 meter, para peserta diuji ketahanan fisik dan mental mereka melintasi keindahan sekaligus keganasan alam Pulau Flores. Juney Hanafi menyelesaikan perlombaan dengan catatan waktu impresif 79 jam 5 menit.

Prestasi Juney Hanafi ini menandai era baru bagi dunia balap sepeda ultra di Indonesia. Keberhasilannya membuktikan bahwa atlet-atlet tanah air memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah internasional dan meraih kemenangan di tengah persaingan ketat. Ini adalah inspirasi bagi banyak pesepeda muda di seluruh negeri.

Sejarah Baru di Lintang Flores 2026

Sebanyak 20 peserta dari berbagai negara berhasil mencapai garis finis di TA’AKTANA, Luxury Collection Resort & Spa Labuan Bajo dengan Juney menjadi yang tercepat.

Posisi kedua dan ketiga tahun ini diraih oleh Muhammad Ghanez Athoriq dan Muhammad Irwan, masing-masing dengan catatan waktu 80 jam 21 menit dan 82 jam 5 menit.

Kemenangan Juney Hanafi ini menjadi sorotan utama di kalangan penggemar balap sepeda. Ia tidak hanya menjadi finisher pertama, tetapi juga memimpin dominasi pesepeda Indonesia di podium Lintang Flores 2026. Ini adalah momen kebanggaan bagi olahraga sepeda Indonesia.

Menaklukkan Rute Ekstrem 1.034 KM

Lintang Flores 2026 menawarkan rute yang sangat berat dan menantang bagi para pesertanya. Juney Hanafi berhasil menaklukkan jarak total 1.034 kilometer yang membentang melintasi Pulau Flores, dari Labuan Bajo menuju Ruteng, Bajawa, Ende, hingga Maumere, lalu kembali lagi ke Labuan Bajo. Rute ini memiliki total elevasi pendakian yang mencapai 19.000 meter, menguji ketahanan fisik dan mental setiap pesepeda.

Perlombaan ini dimulai dan berakhir di Ta'aktana Luxury Collection Resort & Spa Labuan Bajo. Selama perjalanan, Hotel Sylvia di Maumere menjadi satu-satunya checkpoint resmi yang disediakan bagi para peserta. Konsep Lintang Flores adalah self-supported ultra cycling, yang berarti setiap peserta harus mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, termasuk makanan, minuman, perlengkapan tidur, dan suku cadang sepeda.

"Rutenya luar biasa—naik turun gunung dan pantai ratusan kali. Untuk yang akan ikut, siap-siap nanjak. Saya merasa gear saya kurang, jadi di beberapa tanjakan cadence mulai drop. Pada KM 800 ke atas, saya bahkan sempat mendorong sepeda," ujar Juney.

Donasi dan Kategori Wanita

Renaldus Iwan Sumarta, penggagas Lintang Flores 2026, kembali bersyukur atas suksesnya ajang yang berlangsung lancar dan aman.

“Tahun ini istimewa, karena podium pertama hingga ketiga diraih pesepeda Indonesia. Ini menegaskan semangat ultra cycling yang kian tumbuh di tanah air. Kemenangan mereka membuktikan bahwa ajang ini terbuka bagi siapa saja yang berani menguji batas diri.”

“Alam Labuan Bajo dengan rute menanjak, cuaca ekstrem, dan medan menantang adalah keindahan sekaligus ujian, tempat tekad dan keteguhan lebih berarti daripada apa pun,” ujar Iwan.

Pada gelaran tahun ini, Lintang Flores kembali menyalurkan donasi, kali ini untuk renovasi ruang belajar mengajar di SMAK St. Yosef Freinademetz Mukusaki, Ende, yang sempat rusak akibat longsor.

Di kategori wanita, Charlotte Troost dari Belanda berhasil menjadi finisher pertama dengan catatan waktu 87 jam 48 menit. Prestasi kolektif pesepeda Indonesia ini menegaskan bahwa mereka adalah kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah balap sepeda ultra internasional.