KOI Akan Bedah Kisah Sukses 4 Cabor Sumbang Emas di Asian Games 2026

Raja Sapta Oktohari akan mempelajari rahasia keberhasilan empat cabor penyumbang emas di Asian Games 2026 agar cabor lain bisa juga berprestasi di masa depan.

OlehThomas
Diterbitkan 08 Oktober 2026, 22:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari meminta keberhasilan Tim Indonesia meraih lima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak sekadar dirayakan sebagai pencapaian target.

Menurut Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, raihan lima emas harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan olahraga nasional.

Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia mengoleksi lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Torehan tersebut melampaui target pemerintah yang sebelumnya mematok empat medali emas.

Namun, Okto menyoroti fakta bahwa seluruh medali emas Indonesia berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.

"Lima emas tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi sepuluh dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite," ujar Okto.

Bedah Faktor Keberhasilan

Okto menilai keberhasilan empat cabang olahraga tersebut perlu dibedah secara mendalam. Langkah itu penting untuk menemukan pola pembinaan yang bisa diterapkan secara relevan pada cabang olahraga lainnya.

"Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya. Kalau kita tahu faktornya, kita bisa mencari apa yang relevan untuk cabang olahraga lain," katanya.

Ia menilai Indonesia sejatinya tidak kekurangan talenta. Dengan jumlah penduduk yang besar, ribuan sekolah dan klub olahraga, serta beragam potensi fisik, tantangan utama berada pada bagaimana talenta tersebut ditemukan, diarahkan, dan dikembangkan secara tepat.

Menurut Okto, talenta olahraga seharusnya tidak dipandang sebagai milik satu cabang olahraga tertentu.

"Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral," tegasnya.

Dorong Scouting Berbasis Data

Karena itu, Okto mendorong penguatan konsep cross-sport talent, sistem pencarian bakat berbasis data, serta pembinaan atlet dalam jangka panjang.

Ia menegaskan proses mencetak atlet elite tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan pelatih berkualitas, kompetisi yang berkelanjutan, penerapan sport science, nutrisi, fasilitas latihan, kedokteran olahraga, hingga dukungan anggaran yang konsisten.

Di sisi lain, Okto menilai pembinaan prestasi juga membutuhkan skala prioritas. Tidak semua cabang olahraga dapat memperoleh perlakuan dan sumber daya yang sama.

"Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangkan. Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah," ujarnya.Kritik Harus Jadi Bahan Evaluasi

Okto juga menekankan pentingnya membangun budaya evaluasi yang sehat dalam olahraga nasional. Menurutnya, kritik tidak semestinya dianggap sebagai serangan terhadap organisasi maupun individu.

Sebaliknya, kritik harus dimanfaatkan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan.

"Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data," katanya.

Bagi Okto, evaluasi terhadap kiprah Indonesia di Asian Games 2026 tidak boleh berhenti pada kesimpulan sederhana bahwa target empat medali emas berhasil dilampaui dengan raihan lima emas.

Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana prestasi tersebut dapat diperluas ke lebih banyak cabang olahraga sekaligus dijaga keberlanjutannya.

"Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama," pungkas Okto.

"Lima emas adalah pencapaian yang harus diapresiasi, tetapi juga menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kita membangun Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?" sambungnya.