FIFA Resmi Larang Suporter Bawa Botol Minum ke Stadion Piala Dunia 2026, Picu Perdebatan

FIFA secara mendadak melarang penonton membawa botol minum, termasuk botol isi ulang, ke dalam stadion Piala Dunia 2026 dengan alasan keamanan.

OlehThomas
Diterbitkan 06 Juni 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) telah mengeluarkan larangan mendadak yang signifikan bagi para penonton Piala Dunia 2026: tidak ada botol air minum, termasuk botol isi ulang, yang diizinkan masuk ke dalam stadion. Keputusan ini, yang mulai berlaku pada awal Juni 2026, merupakan perubahan drastis pada Kode Etik Stadion FIFA dan telah memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pakar keamanan.

"FIFA resmi melarang penonton membawa botol air minum ke dalam stadion Piala Dunia 2026 demi keamanan dan meminimalkan risiko pelemparan ke lapangan," demikian pernyataan resmi dari federasi sepak bola dunia tersebut. Alasan utama di balik kebijakan baru ini adalah faktor keamanan, dengan FIFA menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mencegah risiko cedera bagi pemain dan penonton, karena botol dapat digunakan sebagai proyektil.

Sebelumnya, FIFA mengizinkan botol plastik transparan kosong yang dapat digunakan kembali dengan kapasitas hingga 1 liter. Namun, aturan ini diubah secara mendadak hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai, sebuah langkah yang mengejutkan banyak pihak.

Perubahan kebijakan yang tiba-tiba ini menuai kritik tajam dari kelompok-kelompok penggemar. Mereka menyuarakan kekhawatiran serius tentang potensi biaya air minum yang tinggi di dalam stadion dan aksesibilitas air, terutama mengingat suhu panas yang diperkirakan akan melanda beberapa lokasi penyelenggaraan pertandingan.

Beberapa pihak bahkan menuding keputusan ini sebagai langkah komersial semata, mengingat kemitraan jangka panjang FIFA dengan raksasa minuman seperti Coca-Cola, yang produk Dasani-nya diproyeksikan akan mendominasi penjualan di gerai resmi stadion.

 

 

Tanggapan FIFA

Menanggapi kekhawatiran tersebut, FIFA menyatakan akan menyediakan stasiun hidrasi, tenda pendingin, dan air minum dalam kemasan di dalam stadion. Mereka mengklaim bahwa harga air minum di lokasi pertandingan akan konsisten dengan tarif pada acara lain yang diselenggarakan di fasilitas serupa. Namun, direktur eksekutif Football Supporters Europe, Ronan Evain, menyebutnya sebagai "risiko kesehatan yang nyata" dan "tidak bermoral" untuk mengambil keuntungan dari air ketika kesehatan orang-orang dalam bahaya.

Selain botol minum, daftar barang terlarang di dalam stadion cukup ekstensif. Ini mencakup gelas, toples, kaleng, senjata, bahan peledak, alat kerja, helm, korek api, bom asap, kaleng semprot, payung, kursi lipat, bantalan duduk, makanan, serta alat pembuat kebisingan berlebihan seperti vuvuzela, peluit, dan klakson udara.

Kebijakan Tas

Kebijakan tas juga sangat ketat. Ransel dalam bentuk apa pun tidak diizinkan masuk ke area stadion. Penonton hanya diperbolehkan membawa tas plastik bening berukuran kecil atau dompet mungil yang sesuai dengan batas ukuran yang telah ditentukan. Aturan ini diterapkan untuk mempercepat proses pemeriksaan keamanan dan menjaga keselamatan jutaan penggemar.

Bagi penggemar yang berencana mengunjungi pertandingan di Meksiko, ada peringatan khusus mengenai larangan ketat terhadap vape. Meksiko memberlakukan larangan total terhadap vape di seluruh negeri, termasuk untuk turis, dengan sanksi berat mulai dari denda hingga potensi hukuman penjara. Para ahli menyarankan alternatif legal seperti kantong nikotin, permen karet nikotin, atau koyo nikotin, dengan rekomendasi untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum perjalanan.

Aparat keamanan akan melakukan proses sterilisasi menyeluruh untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan. Kombes Pol. La Ode Aries menekankan bahwa sanksi tegas, termasuk pencabutan hak menonton, akan diberlakukan bagi pelanggar yang membawa barang berbahaya seperti flare atau benda yang dapat dilempar. Masyarakat yang tidak memiliki tiket juga diimbau untuk tidak memaksakan diri datang ke stadion, dengan alternatif nonton bareng yang difasilitasi pemerintah daerah. Pembatasan kapasitas stadion, seperti Stadion GBLA yang hanya 75% atau sekitar 32 ribu penonton, juga akan diterapkan.