Pita Merah Jadi Ritual Argentina, Berawal dari Kisah Lionel Messi

Menjelang semifinal kontra Inggris, skuad Argentina kembali disorot karena pita merah. Tradisi ini berawal dari kisah Lionel Messi dan reporter Rama Pantarotto.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Dallas - Argentina menapak ke semifinal Piala Dunia 2026 dan akan menghadapi Inggris di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Kemenangan 3-1 atas Swiss lewat perpanjangan waktu mengantar Albiceleste ke empat besar sekaligus menjaga peluang mempertahankan gelar.

Selain duel besar itu, perhatian juga tertuju pada pita merah yang kerap melingkari pergelangan tangan atau kaki para pemain Argentina. Tradisi ini sudah beberapa edisi Piala Dunia terlihat, dilansir dari Talksport.

Akar kebiasaan tersebut bersinggungan langsung dengan pengalaman Lionel Messi pada Piala Dunia 2018, yang kemudian melekat hingga perjalanan Argentina menjuarai edisi 2022.

Pita Merah di Pergelangan Pemain Argentina

Pita merah telah menjadi pemandangan yang tidak asing di ajang Piala Dunia ketika Argentina berlaga. Ikatan kecil itu tampak di pergelangan kaki maupun pergelangan tangan para pemain.

Di internal tim, pita tersebut dipandang sebagai pembawa keberuntungan. Karena itu, tak mengherankan bila aksesori serupa kembali terlihat di skuad saat melakoni partai besar.

Menjelang pertemuan dengan Inggris, kebiasaan ini diperkirakan berlanjut seiring besarnya pertaruhan di babak empat besar.

Jejak 2018: Hadiah dari Rama Pantarotto

Asal-usulnya bermula pada Piala Dunia 2018. Usai Argentina bermain imbang pada laga pembuka melawan Islandia, seorang reporter asal Argentina, Rama Pantarotto, memberikan pita merah pembawa keberuntungan kepada Messi.

Pita itu disebut berasal dari ibunda Pantarotto yang mengidolakan Messi. Di momen penyerahan, Pantarotto menyampaikan kekaguman sang ibu kepada kapten Argentina tersebut.

"Ibuku lebih menyukaimu daripada menyukaiku," ujar Rama Pantarotto.

"Aku selalu membawa pita merah miliknya sebagai pembawa keberuntungan. Jika kau menginginkannya, aku bisa memberikannya padamu," kata Rama Pantarotto.

Sebelum momen itu, Messi gagal mengeksekusi penalti saat menghadapi Islandia. Kisah kecil tersebut kemudian memantik tradisi pita merah di tubuh para pemain Argentina.

Efek di Qatar 2022 dan Misi 2026

Pita merah itu memang tidak memberi kekuatan magis saat Messi mengeksekusi penalti, namun tradisi tersebut diyakini membawa tuah pada Piala Dunia 2022.

Di Qatar, Messi memimpin Argentina meraih gelar pertama mereka dalam 36 tahun setelah menaklukkan Prancis di partai final.

Messi mencatat dua gol pada laga puncak dan sukses saat adu penalti. Ia juga menyabet penghargaan Bola Emas (Golden Ball) sebagai pemain terbaik turnamen.

Memasuki edisi 2026, Messi yang berusia 39 tahun kini berjarak dua kemenangan untuk mengulangi pencapaian tersebut.

Argentina harus lebih dulu melewati hadangan Inggris yang berambisi meraih gelar juara pertama dalam 60 tahun terakhir.