Yudha Saputera Ungkap Penyebab Timnas Basket Indonesia Terpuruk di Asian Games 2026

Timnas basket putra Indonesia selalu kalah dari tiga laga yang dijalani di Asian Games 2026 sehingga pulang lebih dulu ke tanah air.

OlehThomas
Diterbitkan 16 September 2026, 11:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas basket putra Indonesia meraih hasil mengecewakan di Asian Games 2026. Pasukan David Singleton babak belur dan selalu kalah dari tiga laga di fase grup sehingga harus pulang lebih awal, bahkan sebelum Asian Games 2026 resmi dibuka pada 19 September 2026.

Seperti diketahui, cabor bola basket 5on5 putra memulai pertandingan paling awal sejak 10 September 2026. Timnas basket putra Indonesia tak berdaya melawan tuan rumah Jepang, Korea Selatan dan Arab Saudi.

Pada laga pembuka, Indonesia keok 53-98 dari Jepang. Kemudian dilumat Korea Selatan 48-102. Sedangkan di laga terakhir kalah dari Arab Saudi 89-100.

Akibat selalu kalah, timnas basket Indonesia sudah pulang ke Jakarta pada Selasa (15/9/2026) petang WIB. Kapten tim Yudha Saputera kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta mengungkapkan penyebab timnas basket Indonesia tak berdaya di Asian Games 2026.

Menurut Yudha persiapan yang mepet menjadi faktor kunci timnas basket Indonesia kesulitan di Asian Games 2026. timnas basket putra 5on5 memang awalnya tidak ikut ajang empat tahunan tersebut. Namun di saat akhir, Indonesia mendapatkan kesempatan menggantikan salah satu tim yang mundur.

"Yang pasti hasilnya tidak seperti yang kita inginkan, bisa dibilang kita gagal. Tapi yang pasti dari perjalanan pertandingan ASEAN Games kemarin, terutama saya pribadi banyak banget belajar. Belajar untuk bisa lebih siap lagi ke depannya," ujar Yudha.

"Mungkin karena banyak faktor. Kita kecapaian, persiapan yang kurang panjang, karena kita berangkat ini di last minute. Jadi persiapannya kurang bisa maksimal juga. Itu yang paling kerasa, chemistry timnya kurang kebentuk, chemistry timnya kurang bagus juga," kata Yudha.

Banyak Cobaan Dihadapi Timnas Basket Indonesia

Setelah persiapan yang mepet, timnas basket putra Indonesia masih ditimpa masalah lain saat keberangkatan ke Jepang dan ketika tiba di Nagoya.

Timnas basket Indonesia harus memutar terbang dari Surabaya. Pasalnya Bandara Soekarno-Hatta sempat ditutup akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Yudha cs harus menempuh perjalanan darat ke Surabaya untuk terbang ke Singapura dan kemudian lanjut ke Jepang.

Pas sampai di Jepang, timnas basket Indonesia dipusingkan dengan hujan deras yang berakibat banjir besar di Nagoya. Akibatnya mereka batal latihan sebelum laga pertama kontra Jepang.

"Dampaknya sangat besar ke kita. Kita disini ada force majeure, terus sampai sana juga ada force majeure, disana ada banjir di Nagoya. Jadi kita tidak bisa latihan sama sekali. Kita game 1 tuh nggak latihan sama sekali sebelum kita game 1, harusnya kita bisa dapet latihan 2 kali, tapi karena force majeure itu, kita nggak bisa latihan sama sekali disana."

Absennya Bolden Berpengaruh

Timnas basket Indonesia juga merasa kesulitan bersaing akibat absennya pemain naturalisasi Marques Bolden. Tanpa pemain kelahiran Amerika Serikat itu, paint area timnas basket Indonesia kedodoran menahan gempuran bigman lawan.

"Besar sekali pengaruh absennya Bolden. Karena Marques kan pemain yang bagus, punya size, terus juga sangat bisa bantu kita di defense dan offense, jadi tanpa adanya Marques ya kerasa banget. Karena kemarin kita kelihatan sendiri kita cukup kesusahan di paint area juga. Kalau ada Marques mungkin hasilnya bakal lebih baik sih," pungkas Yudha.

Meski gagal total di Asian Games 2026, Yudha merasa mendapat banyak pengalaman berharga yang akan membantu dirinya dan rekan setim untuk lebih baik lagi pada event selanjutnya yakni Kualifikasi FIBA Asia.

"Tapi yang pasti dari perjalanan pertandingan Asian Games kemarin, terutama saya pribadi banyak banget dapat pelajaran. Belajar untuk bisa lebih siap lagi ke depannya. Di Asia bener-bener pemain-pemain sana tuh kuat-kuat, terus juga cepet-cepet juga, terus solid-solid gitu," tegas Yudha.