Timnas Iran Ancam Boikot Piala Dunia 2026 Jika 2 Hal Ini Terjadi

Meskipun Piala Dunia 2026 belum berlangsung, Iran telah mengancam untuk berhenti bertanding.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Iran mengancam akan berhenti bertanding pada Piala Dunia 2026 jika ada bendera yang tidak diakui oleh pemerintah Iran atau terdengar nyanyian serta slogan yang dianggap menyerang timnas di dalam stadion. Ancaman ini menunjukkan betapa seriusnya timnas Iran dalam menjaga citra mereka selama kompetisi internasional ini.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, dan telah dilaporkan oleh berbagai media Iran di tengah meningkatnya kritik terhadap keikutsertaan timnas negara itu dalam Piala Dunia 2026. Hal ini mencerminkan ketegangan yang ada seputar partisipasi Iran dalam turnamen bergengsi tersebut.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan akan dimulai pada Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Kejuaraan ini akan menjadi momen penting bagi banyak tim, termasuk Iran yang berharap dapat menunjukkan performa terbaik mereka.

Iran berada di Grup G dan direncanakan akan melawan Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni. Setelah pertandingan tersebut, mereka akan kembali bertanding di kota yang sama melawan Belgia pada 21 Juni, sebelum menutup fase grup dengan menghadapi Mesir di Seattle pada 26 Juni.

"Kami telah memberi tahu FIFA bahwa jika ada bendera tidak resmi yang dibawa ke stadion atau slogan yang ditujukan kepada tim nasional diteriakkan di stadion tempat Iran bermain di Piala Dunia, manajer tim tentu akan bertanggung jawab untuk menghentikan pertandingan," ungkap Donyamali pada hari Selasa, seperti yang dilaporkan oleh media Iran. Pernyataan ini menegaskan komitmen Iran untuk menjaga integritas pertandingan mereka.

Pertandingan Kebanggaan

Donyamali juga menyatakan bahwa pihaknya telah menerima jaminan terkait pertandingan melawan Mesir. "Kami telah mendapat jaminan bahwa tidak akan ada insiden yang mengganggu di stadion selama pertandingan melawan Mesir," ungkapnya.

Sebelumnya, baik Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) maupun Mesir telah meminta kepada FIFA untuk mencegah segala aktivitas yang berkaitan dengan komunitas LGBTQ+ dalam laga yang mempertemukan kedua tim di Seattle. Pertandingan ini ditetapkan oleh penyelenggara lokal sebagai "Pride Match" karena bertepatan dengan perayaan Pride Weekend di Seattle.

Kontroversi mengenai keikutsertaan Iran dalam Piala Dunia 2026 sebenarnya sudah mulai muncul beberapa bulan lalu. Pada bulan April, sekelompok demonstran berkumpul di depan Kongres FIFA yang berlangsung di Vancouver, meminta agar Iran dicoret dari turnamen tersebut.

Mereka berpendapat bahwa Timnas Iran lebih mencerminkan kepentingan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) daripada suara rakyat Iran sendiri. Dengan situasi yang semakin memanas ini, banyak yang mempertanyakan apakah Iran layak untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut.

Partisipasi Iran Terganggu

Menjelang turnamen, Iran tidak hanya menghadapi tantangan di lapangan, tetapi juga dalam hal organisasi. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) sebelumnya mengumumkan bahwa alokasi tiket resmi bagi para pendukung mereka dicabut hanya beberapa hari sebelum dimulainya Piala Dunia 2026.

Keputusan ini berpotensi mengakibatkan banyak suporter yang telah membeli tiket perjalanan dan merencanakan keberangkatan ke Amerika Utara tidak dapat menyaksikan pertandingan langsung tim nasional mereka. Saat ini, tim nasional Iran sedang menjalani pemusatan latihan di Tijuana, Meksiko, untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang besar tersebut.

Di tengah berbagai tantangan yang ada, situasi geopolitik juga memberikan dampak pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat telah menyatakan bahwa tim Iran akan diizinkan untuk memasuki wilayah AS sehari sebelum setiap pertandingan yang mereka jalani. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak rintangan, upaya untuk memastikan kehadiran tim tetap diupayakan.

 

Sumber: Aning Jati (Bola.com)