Belanda Dijagokan Bisa Juara Piala Dunia 2026, Jepang Bakal Jadi Kuda Hitam

Piala Dunia 2026 diprediksi bisa melahirkan juara baru. Belanda berpotensi juara untuk pertama kalinya di ajang empat tahunan itu.

OlehThomas
Diterbitkan 12 Juni 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 resmi dimulai pada Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Laga pembuka mempertemukan salah sat tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan di Estadio Azteca, Meksiko City.

Untuk pertama kalinya, Piala Dunia digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dengan jumlah peserta 48 negara. Bertambahnya jumlah peserta ini membuat Piala Dunia 2026 akan berjalan menarik.

Kemungkinan munculnya juara baru dan kehadiran tim-tim kuda hitam jadi sorotan. Tim-tim tradisionalseperti Brasil, Argentina, Jerman, Prancis, dan Spanyol memang masih jadi unggulan tapi peluang lahirnya juara baru tak tertutup.

Beberapa prediksi bahkan menempatkan Portugal dan Belanda bisa menjadi juara baru di Piala Dunia 2026 ini. Prediksi akan lahirnya juara baru juga diungkap Dewan Pembina Garudayaksa FC Academy, Fary Djemy Francis.

Fary melihat era dominasi negara-negara besar mulai menghadapi tantangan serius di Piala Dunia 2026.

Menurutnya, perkembangan teknologi pelatihan, sport science, analisis data, serta globalisasi kompetisi sepak bola telah mempersempit kesenjangan kualitas antarnegara.

“Kini, keberhasilan tidak lagi semata ditentukan oleh nama besar, tetapi oleh kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi. Dalam konteks tersebut, Belanda dan Jepang layak disebut sebagai dua kekuatan disruptif Piala Dunia 2026,” kata Fary Francis kepada wartawan di Jakarta.

Belanda Punya Modal Bagus

Fary menjagokan Belanda bisa juara turnamen empat tahunan itu untuk pertama kalinya. Menurut Fary, meski tidak selalu masuk kelompok favorit utama, Belanda sering tampil efektif ketika ekspektasi publik tidak terlalu tinggi.

“Dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang matang di liga-liga elite Eropa, Belanda berpotensi menjadi "silent contender" yang perlahan menyingkirkan para unggulan hingga mencapai partai puncak,” tambah Fary Francis.

Untuk kuda hitam, Fary melihat Jepang patut diperhitungkan. Fary Francis menilai, Jepang menghadirkan model pembangunan sepak bola yang berbeda.

Munculnya Juara Baru

“Yang menarik, jika Belanda mewakili evolusi kekuatan sepak bola tradisional Eropa, maka Jepang mewakili masa depan sepak bola global yang berbasis sistem. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan tim-tim elite dunia. Hal ini menunjukkan bahwa batas antara negara favorit dan nonfavorit semakin tipis,”

“Karena itu, saya melihat Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertarungan memperebutkan trofi, melainkan pertarungan antara tradisi dan inovasi. Jika negara-negara favorit gagal beradaptasi dengan dinamika baru turnamen, maka peluang lahirnya juara kejutan akan semakin terbuka,”

“Namun apabila terjadi kejutan besar, maka Belanda memiliki peluang menjadi juara baru pertama dari Eropa Barat dalam era modern.Sedangkan Jepang berpotensi menciptakan sejarah sebagai negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia," tegasnya.

Menurut Fary Francis, Spanyol dan Prancis tetap menjadi kandidat terkuat. Akan tetapi, Belanda yang bakal menjadi juara.

“Bila skenario tersebut terjadi, maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan karena menjadi titik awal lahirnya tatanan baru sepak bola dunia, di mana keberhasilan ditentukan oleh kualitas sistem, inovasi, dan kemampuan bertransformasi, bukan semata-mata oleh reputasi masa lalu,” tutupnya.