Keluhan Senegal di Piala Dunia 2026, Mulai Fasilitas Tim Hingga Bonus

Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, mengungkapkan adanya keluhan dalam tim terkait bonus yang menjadi masalah di Piala Dunia 2026.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih Timnas Senegal Pape Thiaw mengungkapkan adanya ketidakpuasan di dalam timnya menjelang pertandingan kedua Grup Piala Dunia 2026 melawan Norwegia yang dijadwalkan berlangsung Selasa (23/6/2026) pagi WIB.

Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama tim saat ini adalah pada laga yang ia sebut sebagai "final".

Pelatih yang berusia 45 tahun tersebut mengakui terdapat beberapa isu yang harus ditangani, salah satunya berkaitan dengan bonus bagi pemain. Selain itu, sejumlah media juga melaporkan bahwa para pemain Senegal merasa tidak puas dengan fasilitas pada markas tim yang berada di New Jersey.

Bahkan, ada kabar bahwa beberapa pemain memilih untuk memesan dari luar ketimbang menyantap makanan yang disediakan.

Tetap Konsentrasi

Salah satu masalah yang kini telah teratasi adalah kontrak pelatih Pape Thiaw. "Masalah kontrak saya sudah selesai. Prosesnya memakan waktu terlalu lama," ungkapnya.

Thiaw menekankan pentingnya kejelasan dalam hal kontrak agar tidak mengganggu konsentrasi tim. Dengan menyelesaikan problema tersebut, Senegal dapat fokus pada persiapan dan strategi menghadapi pertandingan mendatang.

Hal ini diamini kiper Mory Diaw. Dia menegaskan bahwa tim tetap berkonsentrasi dalam menjalankan tugas sebagai perwakilan Senegal. "Kami adalah profesional dan berada di sini untuk mewakili negara kami," katanya.

Kisruh Sepak Bola Senegal

Thiaw menjelaskan bahwa masalah ini tidak berhubungan dengan uang, tetapi lebih kepada prinsip dan rasa hormat. Saat ini, Senegal sedang berada dalam situasi terdesak setelah mengalami kekalahan pada pertandingan pembuka melawan Prancis. Mereka kini bersiap untuk menghadapi Norwegia di Stadion New York/New Jersey.

Sepanjang tahun ini, perjalanan Senegal dipenuhi dengan berbagai kontroversi, terutama setelah final Piala Afrika 2025 yang berlangsung pada Januari lalu. Pertandingan tersebut menuai banyak perdebatan, dan pada akhirnya, gelar juara diberikan kepada tuan rumah, Maroko. 

 

Sumber: Aning Jati (Bola.com)