8 Pemain Piala Dunia 2026 Terseret Skandal Doping, Belum Dijatuhi Sanksi

Sebanyak delapan pemain di Piala Dunia 2026 terdeteksi positif Clenbuterol akibat mengonsumsi daging yang terkontaminasi.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak delapan anggota Timnas Tunisia dilaporkan gagal melewati uji doping dengan hasil menunjukkan adanya jejak zat terlarang "clenbuterol" selama berlangsungnya Piala Dunia 2026.

Namun, tidak ada pemain yang dikenakan sanksi atau skorsing akibat temuan tersebut, karena diduga zat tersebut berasal dari konsumsi daging yang terkontaminasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada temuan positif, situasi ini masih diperdebatkan dan perlu penjelasan lebih lanjut.

Menurut laporan dari The Times, semua pemain yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 akan menjalani tes doping secara acak selama turnamen berlangsung. Ini adalah langkah untuk menjaga integritas kompetisi dan memastikan bahwa semua atlet mematuhi aturan yang berlaku.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa delapan pemain dari skuad Tunisia memiliki kandungan clenbuterol dalam sampel urine mereka. Clenbuterol sendiri merupakan substansi yang masuk dalam daftar larangan yang ditetapkan oleh World Anti-Doping Agency (WADA). Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati asma, tetapi juga diketahui memiliki efek samping yang meningkatkan massa otot tanpa lemak dan mengurangi kadar lemak tubuh.

Identitas Pemain Dirahasiakan

Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan adanya clenbuterol, identitas kedelapan pemain tersebut tidak diungkapkan. Otoritas yang berwenang juga tidak memberikan sanksi karena mereka percaya bahwa zat tersebut masuk ke dalam tubuh para pemain melalui konsumsi daging yang terkontaminasi.

Selama Piala Dunia 2026, tim nasional Tunisia berpusat di Monterrey, Meksiko. Laporan mengungkapkan bahwa peternak di negara itu memiliki kebiasaan menggunakan clenbuterol dalam pakan ternak, dengan keyakinan bahwa zat ini dapat mengurangi lemak serta meningkatkan massa otot hewan.

Petinju Meksiko Sempat Terseret

Petinju asal Meksiko, Saul Alvarez, pernah mengalami situasi serupa. Pada tahun 2018, petinju yang akrab disapa Canelo itu dikenakan sanksi larangan bertanding selama enam bulan akibat hasil tes positif clenbuterol. Ia menjelaskan bahwa hasil tersebut disebabkan oleh konsumsi daging sapi yang terkontaminasi di negaranya.

"Itu adalah kesalahan dan tidak lebih dari itu, yaitu karena saya tidak memahami masalah ini di Meksiko. Itu kesalahan saya, dan saya tidak akan mengulanginya lagi," ungkap Canelo setelah menjalani masa sanksi.

Setelah peristiwa tersebut, Canelo mengaku menjadi lebih waspada dalam memilih makanan. Ia bahkan menghindari daging sapi saat berada di Meksiko sebagai langkah pencegahan. "Setelah semua ini terjadi, saya benar-benar sangat berhati-hati. Bahkan mungkin terlalu berhati-hati. Saya rasa kami sampai pada titik tidak lagi makan daging sapi," tambahnya. 

Contoh Situasi Berbeda

Insiden terkait clenbuterol akibat dugaan kontaminasi daging pernah terjadi pada Piala Dunia U-17 yang berlangsung di Meksiko pada tahun 2011. Dalam kejadian tersebut, sebanyak 109 dari 208 pemain yang menjalani tes terdeteksi memiliki jejak zat terlarang ini. Meskipun demikian, tidak ada sanksi yang dijatuhkan karena banyaknya kasus ini dianggap berkaitan dengan daging yang tercemar.

Di sisi lain, tim nasional Tunisia harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih awal setelah menempati posisi terakhir di Grup F. Tim yang berasal dari Afrika tersebut mengalami kekalahan yang cukup telak dari Swedia, Jepang, dan Belanda. Selain itu, Tunisia juga melakukan pergantian pelatih, di mana Sabri Lamouchi digantikan oleh Herve Renard setelah timnya kalah 1-5 dari Swedia pada laga pembuka Piala Dunia 2026.

 

Sumber: Aning Jati (Bola.com)